Bencana dan Kesiapsiagaan Kita

Bencana banjir dan juga longsor tak hanya membuat orang susah dan terpaksa mengungsi. Imbas bencana juga membuat rusaknya infrastruktur.

Rabu, 10 Feb 2016 10:00 WIB

Banjir di Jombang. (Foto: KBR/Muji)

Banjir di Jombang. (Foto: KBR/Muji)

Sepekan ini banjir besar menggenai kabupaten/kota di pulau Sumatera. Dari mulai Aceh, Sumatera Barat, Riau hingga Bangka Belitung. Banjir di kabupaten/kota di daerah itu merendam ribuan rumah. Di beberapa daerah bahkan ketinggian air mencapai 1.5 meter. Akibatnya ribuan warga terpaksa mengungsi.

Bencana itu membuat Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sijunjung, Limapuluh Kota dan Pasaman, Sumbar sejak Senin menetapkan tanggap darurat bencana. Pasalnya tak hanya banjir, bencana longsor juga melanda daerah itu. Tanggap darurat untuk mengatasi dampak bencana akan berlangsung selama 14 hari. Sesudahnya bila belum tuntas akan diperpanjang.

Sementara itu banjir yang meluas di Riau membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat meminta 3 kabupaten menetapkan status tanggap darurat. Ketiga daerah itu adalah Kampar, Rokan Hulu (Rohul), dan Kuantan Singingi (Kuansing). Tujuan penetapan status itu adalah mempercepat proses pemberian bantuan, baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Termasuk di dalamnya penggunaan dana darurat bencana.

Bencana banjir dan juga longsor tak hanya membuat orang susah dan terpaksa mengungsi. Imbas bencana juga membuat rusaknya infrastruktur. Bencana merusak dari rumah warga, jalan, jembatan, kantor pemerintahan maupun irigasi pertanian. Karena itu butuh dana tak sedikit untuk memperbaiki segala kerusakan itu.

Pemerintah pusat punya dana 2,5 triliun rupiah untuk tanggap darurat. Jumlah yang relatif sedikit untuk sebuah negeri yang rawan bencana. Dana yang tak banyak itu seyogyanya tak terpakai. Ini artinya, mesti ada upaya pencegahan agar bencana seperti banjir tak terjadi. Merawat hutan, membuat lubang resapan dan memperbaiki saluran air, bisa jadi cara mencegah banjir kala mmusim penghujan tiba. Melakukan itu jauh lebih baik daripada menanggulangi ketika bencana tiba. Langkah itu meminimalkan korban terdampak bencana juga mengurangi biaya penanggulangan. 


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.