Berpikiran Terbuka

Setiap pencarian di internet itu tercatat dan cenderung memerangkap kita pada informasi yang sering kita cari. Artinya, seseorang yang berpandangan A akan lebih banyak terpapar informasi terkait A.

Senin, 16 Jan 2017 09:35 WIB

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Semalam, Presiden Joko Widodo mengingatkan kita soal bahaya media sosial. Bahwa itu bisa memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya, Jokowi meminta supaya pengaruh media sosial diwaspadai. Sebab ada banyak ujaran kebencian, hasutan dan kabar bohong yang justru lebih banyak hadir di lini masa.

Setiap hari seperti bermunculan contoh-contoh baru soal ini. Pembakaran markas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di Bogor menurut Polisi bermula dari kabar bohong atau hoax di media massa. Informasi bergerak cepat di media sosial, tanpa verifikasi dan pengecekan, dan menyulut terjadinya pembakaran. Ke-20 tersangka diduga diduga terpicu emosi karena mendengar salah satu anggota Front Pembela Islam jadi korban pengeroyokan.

Contoh lain yang juga masih hangat terkait Debat Cagub Jakarta. Debat sudah usai sejak Jumat malam, tapi masih tetap hangat sampai sekarang. Setiap kubu mempertahankan jagoannya masing-masing – kadang masih dalam taraf yang menghibur, sampai ke fase saling menyerang.

Aktivis internet Eli Pariser menyebut soal efek gelembung filter. Setiap pencarian di internet itu tercatat dan cenderung memerangkap kita pada informasi yang sering kita cari. Artinya, seseorang yang berpandangan A akan lebih banyak terpapar informasi terkait A – entah itu benar atau bohong. Begitu juga dengan mereka yang berpendapat B. Dengan begitu, semua orang sibuk dalam gelembungnya masing-masing – tak peduli apa yang jadi pendapat pihak lain.

Gelembung ini yang harus kita jebol. Berpikiran terbuka, sambil terus memeriksa semua informasi yang beredar, jadi wajib dilakukan di tengah banjirnya informasi di ujung jari Anda. Kita mesti terus belajar menghargai pendapat orang lain, seberapa pun itu berbeda dengan pendapat kita.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.