Lapas

Dievaluasi dan diperbaiki, demi mencegah radikalisme menyebar, tumbuh dan menciptakan kader teroris baru justru dari dalam penjara.

Jumat, 22 Jan 2016 10:00 WIB

Lapas Kerobokan Bali. (KBR/Yulius)

Lapas Kerobokan Bali. (KBR/Yulius)

Di mana sekolah tinggi para penjahat? Ketua Komisi Yudisial pernah berujar, orang yang masuk penjara karena mencuri sepeda, setelah keluar malah jadi pencuri mobil. Entah berseloroh atau tidak begitulah adanya. Maka orang lantas menyebut penjaralah sesungguhnya sekolah tinggi para penjahat.

Meski kata 'penjara' sudah diperhalus menjadi lembaga pemasyarakatan atau lapas, toh tak bisa dipungkiri ada narapidana menjadikan penjara seperti sekolah. Bertemunya murid dan guru dalam soal kejahatan. Bahkan parahnya malah jadi tempat yang nyaman untuk berlindung dan tetap melanjutkan kejahatannya di dalam penjara.

Lihat misalnya kasus Freddy Budiman. Gembong narkotika yang divonis mati 3 tahun lalu karena memiliki hampir 1,5 juta  butir ekstasi, dari dalam penjara masih bisa menjalankan bisnis haramnya bahkan memproduksinya di penjara. Jadi jangan heran bila beberapa bulan lalu saat Badan Narkotika Nasional (BNN)Provinsi Jawa Barat  menggelar tes urin bagi para narapidana di Lapas Cianjur, sebanyak lebih 12 persen positif menggunakan narkoba.

Tak hanya narkotika, kejahatan lain juga menjadikan penjara sebagai sekolah, seperti kejahatan terorisme. Orang-orang yang disebut polisi sebagai pelaku teror bom di Sarinah beberapa pernah dipenjara dalam kasus serupa. Ini tampaknya yang bikin gerah Presiden Joko Widodo hingga meminta agar lapas ditertibkan. Usai rapat terbatas kemarin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyebut sumber radikalisme tumbuh di lapas.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada tahun lalu menyebut, ada hampir 300 orang yang tengah menjalani hukuman dalam kasus terorisme. Mereka tersebar di 28 lapas yang ada di 10 provinsi. Tempat-tempat itulah yang mestinya segera mendapat perhatian khusus. Dievaluasi dan diperbaiki, demi mencegah radikalisme menyebar, tumbuh dan menciptakan kader teroris baru justru dari dalam penjara. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Arsul Sani: KPK Jangan Bernafsu Tangani Korupsi Swasta

  • BPBD Lebak: Gempa Hantam 9 Kecamatan
  • Jerat Hari Budiawan, Warga Tumpang Pitu Protes Putusan Hakim
  • Gunakan GBK, Persija Naikan Tiket Pertandingan Piala AFC

Padahal para pekerja di kedua jenis industri ini kerap dituntut bekerja melebihi jam kerja dan juga kreativitas yang tak terbatas.