Zika

Indonesia kemarin mengikuti jejak negara lain dengan mengeluarkan himbauan untuk tak mengunjungi negeri jiran itu.

Kamis, 01 Sep 2016 09:16 WIB

Antisipasi virus zika (foto: Antara)

Antisipasi virus zika (foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Mahluk kecil itu bernama Zika. Keberadaannya ditakuti banyak orang. Virus ini dianggap bertanggungjawab atas kelahiran bayi dengan mikrosefali alias berkepala mini dan Sindrom Guillain–Barré atau kerusakan saraf. Peneliti di Brasil menemukan cairan ketuban ibu yang janinnya didiagnosis mikrosefali telah terinfeksi virus zika. Virus juga ditemukan dalam jaringan otak bayi yang baru lahir dengan mikrosefali.

Di negara Amerika Latin itu pada tahun lalu lebih 2700 bayi dilaporkan lahir dengan mikrosefali atau kecacatan pertumbuhan otak. Peningkatan drastis kasus mikrosefali terjadi setelah dilaporkan adanya wabah virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aigepty dan aedes albopictus itu. Peningkatan kasus kepala mini ini di Brazil mencapai 1800 persen dari kasus tahun 2014 yang hanya 150. Pemerintah Brazil menduga tingginya kasus microsefali ini lantaran infeksi virus zika pada ibu hamil. 

Dari Amerika Latin, virus menyebar ke Asia. Hanya dalam tempo beberapa hari kasus zika meningkat di negeri jiran Singapura. Pada akhir pekan lalu orang yang positif terinfeksi virus ada 41 orang yang dalam beberapa hari meningkat dua kali lipat menjadi 82 orang. Itu sebab Amerika, Australia, Inggris, Taiwan jauh hari mengeluarkan peringatan untuk sementara tak mengunjungi Singapura.

Indonesia kemarin mengikuti jejak negara lain dengan mengeluarkan himbauan untuk tak mengunjungi negeri jiran itu. Terutama, kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek perempuan yang tengah hamil. Nila juga meminta dilakukan pemeriksaan di pelabuhan atau bandara. Tujuannya mencegah orang yang demam karena mengidap virus itu menyebarkan ke lainnya.

Gejala serangan virus zika berupa ruam, demam, sakit  sendi, sakit kepala  mirip dengan serangan virus demam berdarah dengue dan chikungunya. Nyamuknya pun sama, sembari pemerintah melakukan antisipasi, ada baiknya setiap warga mulai kembali menggalakkan gerakan lama 3 M. Menguras, mengubur, dan menutup. Kata orang bijak lebih baik mencegah dari pada mengobati. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?