Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Nila Moeloek

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyerahkan bantuan makanan tambahan untuk balita saat berkunjung ke Kampung Nelayan Karangantu, di Serang, Banten, Minggu (11/9) (foto: Antara)


Pemerintah akan memberikan suplemen gizi pada daerah-daerah dengan kasus balita bergizi buruk. Ini janji Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke Kota Serang, Banten, kemarin. Menurut Presiden, langkah ini penting sebagai investasi masa depan kita. Anak dengan gizi yang baik bakal meningkatkan kualitas sumber daya manusia – penentu Indonesia di masa mendatang. Kota Serang sendiri tahun lalu memiliki dua ribuan kasus kurang gizi dan gizi buruk. Untuk sebuah wilayah yang terletak tak jauh dari pusat pemerintahan negara, ini memalukan.

Secara nasional, angka kasus gizi buruk memang masih buruk. Departemen Kesehatan menyebut ada 404 kabupaten kota di Indonesia yang punya masalah gizi akut dan kronis. Dan sumber masalah sebetulnya tak jauh dari kehidupan sehari-hari; yaitu wilayah yang kumuh, sumber air yang kotor serta perilaku tak sehat dari warga. Tak perlu seorang jenius untuk melihat akar masalah gizi buruk di tanah air.

Pemberian Makanan Tambahan, seperti yang dilakukan Presiden Jokowi di Serang, adalah tindakan kuratif karena yang dapat makanan tambahan adalah mereka yang sudah terlanjur kurang gizi. Ibaratnya, seperti pahlawan kesiangan. Yang seharusnya lebih digencarkan pemerintah adalah langkah-langkah mencegah terjadinya kasus kurang gizi. Promosi pentingnya gizi seimbang, pemahaman soal gizi yang benar, masih sangat jarang terjadi di tengah masyarakat. Ini adalah investasi dasar yang mesti dilakukan segera bagi generasi penerus bangsa.

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia saat ini berada di urutan 111 dari 182 negara – 71 langkah menuju urutan buncit. Empat tahun lagi, Indonesia diperkirakan mengalami fase bonus demografi – di mana jumlah penduduk usia produktif mencapai 2/3 total penduduk. Tapi jika status gizi para calon ‘bonus demografi’ ini buruk, entah generasi mendatang seperti apa yang menanti kita.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!