Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)


Jika harga rokok betulan jadi 50 ribu rupiah, apakah Anda yang perokok masih akan tetap beli?


Tidak, kalau merujuk ke studi dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Setelah menyurvei seribu orang, diketahui kalau sebanyak 72 persen bakal berhenti merokok kalau harga rokok sudah di atas 50 ribu rupiah. Dari situ disimpulkan kalau tarif cukai rokok yang lebih tinggi adalah langkah tepat untuk mendapatkan sumber dana bagi negara.


Rokok adalah dilema negara yang tak putus-putus. Perdebatan yang ditampilkan adalah memilih antara kesehatan banyak orang atau industri yang memperkerjakan begitu banyak orang. Jangan lupa juga, ada tekanan internasional di sini. Indonesia adalah salah satu negara yang belum juga meratifikasi FCTC atau Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau. Dasar utamanya adalah hak semua orang untuk memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya.


Badan Pusat Statistik pada 2007 menyebut kalau tingkat pengeluaran tertinggi sebuah rumah tangga setelah beras adalah belanja rokok. Kalau sudah beres beli rokok, baru memikirkan pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan. Harga rokok di Indonesia pun terhitung murah dibandingkan di negara-negara maju. Di London, misalnya, harga rokok per bungkus hampir 200 ribu rupiah. Sementara di sini, sudah harganya murah per bungkus, bisa beli ketengan pula. Harga rokok di Indonesia disebut-sebut ketiga termurah di ASEAN, setelah Kamboja dan Vietnam.


Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi bakal menaikkan cukai rokok tahun depan. Sejauh ini diperkirakan bakal naik sekira 10 persen dari sekarang. Angka persisnya masih dikaji dan bakal disampaikan ke pelaku industri paling lambat 3 bulan sebelum diberlakukan.


Ini bisa jadi peluang untuk menyelamatkan Indonesia yang jadi negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Jumlah perokok laki-laki dewasa saat ini tercatat nyaris 70 persen dari populasi penduduk. Trennya pun menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pengalaman dari negara lain menunjukkan, harga rokok yang tinggi, tidak membuat pabrik rokok bangkrut. Harga rokok yang tinggi diharapkan membuat masyarakat miskin tak bisa merokok dan memakai uang yang ada untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.    

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!