Nasib Kritis Gajah Sumatera

Gajah berusia 20 tahun ini mati hanya 3,5 kilometer dari kawasan TN Kerinci Seblat, Muko-muko. Persisnya di Hutan Produksi Air Teramang, habitat populasi terakhir kelompok 40an gajah liar di Bengkulu.

Senin, 02 Jul 2018 05:47 WIB

Tim forensik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung memeriksa bangkai gajah Suma

Tim forensik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung memeriksa bangkai gajah Sumatera yang mati di kawasan Hutan Produksi (HP) Air Teramang Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. (Foto: BKASDA Bengkulu/Antara)

Gajah kembali mati di tanah Sumatera. Bagian caling atau gading gajah betina itu diambil, menyisakan jenazah gajah dengan rahang menganga. Gajah berusia 20 tahun ini mati hanya 3,5 kilometer dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Muko-muko, Bengkulu. Persisnya gajah ini mati di Hutan Produksi Air Teramang, habitat populasi terakhir kelompok  besar 40an gajah liar di Bengkulu.

Padahal baru awal Juni lalu kita mendengar kabar matinya Gajah Bunta di Aceh. Saat ditemukan, gading gajah hilang sebelah, dengan cara dibelah di bagian pipi. Bunta diduga diracun pada awal Juni lalu. Kematian Gajah Bunta memicu respons besar - sayembara 100 juta dari Gubernur Aceh, tanda tangan 40 ribu netizen yang menuntut pengusutan kasus ini sampai Menteri Lingkungan Hidup yang mengaku kecolongan soal kematian Bunta karena ia mati di area konservasi. Kasus masih terus diusut polisi.

Mau sampai kapan kita dengar kasus seperti ini? Satwa langka mati karena perdagangan ilegal untuk kesenangan manusia. Padahal jumlah gajah di tanah air sangat kritis; kalah oleh perburuan gading atau hilangnya hutan yang kalah oleh kebun sawit. 

Seruan demi seruan muncul, petisi terus ditandatangani, kita mendorong terus adanya perubahan. Sebab gajah yang punah berarti habis juga hutan kita dengan segala kebaikan yang diberikan demi kehidupan manusia. Kita tak perlu kenal dengan gajah-gajah yang mati itu untuk mulai bergerak melindungi mereka, dengan cara sekecil apa pun. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.