Apa Kabar Kasus Novel, Pak Presiden?

Novel mengaku justru melihat orang yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras berada di seberang rumahnya. Di mana rasa aman bagi yang ada di garda terdepan pemberantasan korupsi negeri ini?

Senin, 18 Jun 2018 05:17 WIB

Ilustrasi: Aksi melawan gelap pengungkapan kasus penyerangan Novel Baswedan

Ilustrasi: Aksi melawan gelap pengungkapan kasus penyerangan Novel Baswedan (Foto: Antara)

Di tengah kemeriahan Ramadan, penyidik senior KPK mengingatkan Presiden Joko Widodo akan kasusnya. Kasus penyiraman air keras terhadap dirinya yang tak kunjung bergerak sejak setahun lebih lalu. Peristiwa yang membuat Novel harus kehilangan penglihatan kirinya sampai 90 persen. Setelah perawatan intensif di Singapura, begitu pulang Novel mengaku justru melihat orang yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras berada di seberang rumahnya. Di mana rasa aman bagi mereka yang ada di garda terdepan pemberantasan korupsi negeri ini? 

Di sisi lain polisi bersikukuh soal keseriusan mereka dalam menangani kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Dalam pernyataan April lalu, polisi optimistis bakal segera menyelesaikan kasus ini. Tapi yang dibutuhkan Novel tidak sekadar optimisme, tapi pergerakan kasusnya. Dari sekian bukti dan saksi, belum satu pun yang jadi tersangka. Karena itu dorongan akan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kembali mencuat. Kali ini disorongkan oleh Wadah Pegawai KPK yang akan segera berkirim surat kepada Presiden Jokowi. 

Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan tidak boleh dianggap enteng. Seperti juga dengan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir ketika terbang menuju Belanda. Keduanya lantang dan berada di garis terdepan dalam bidang dan kapasitasnya masing-masing. Ketika orang-orang yang berada di bawah lampu sorot seperti mereka saja tak beroleh rasa aman, maka apalah artinya orang-orang biasa seperti kita?

Publik menunggu titik terang itu. Bentuknya bisa macam-macam; pergerakan nyata dari Kepolisian atau pembentukan TGPF. Tanpa itu, maka publik seperti tak punya pegangan dan jaminan atas rasa aman. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.