Stop Persekusi

Data diri mereka disebar, dibumbui macam-macam yang seolah membenarkan mereka sebagai target buruan. Padahal sesungguhnya mereka adalah korban persekusi.

Kamis, 01 Jun 2017 22:58 WIB

Ilustrasi: persekusi

Ilustrasi: persekusi (foto: humas polri)

Anak laki-laki itu usianya baru 15 tahun. Sendirian, dia dikelilingi belasan orang dewasa yang menceramahi, sambil sesekali memukul bagian kepalanya. Ia dipaksa menandatangani surat permintaan maaf bermaterai. Gara-garanya adalah status di Facebook dia dianggap menghina pimpinan FPI, Rizieq Shihab.

Sebelumnya, intimidasi serupa dialami dr Fierra Lovita di Solok, Sumatera Barat. Status Facebook-nya dianggap menghina FPI. Bahkan ketika ia sudah minta maaf pun, intimidasi terus berlanjut. Ia sampai harus mengungsi ke lain kota bersama anak-anaknya.

Mereka ditekan massa karena dianggap menistakan ulama dengan status yang ditulis di media sosial. Dengan tudingan tersebut, data diri mereka disebar, dibumbui macam-macam yang seolah membenarkan mereka sebagai target buruan. Padahal sesungguhnya mereka adalah korban persekusi.

Persekusi, kata ini kian akrab di telinga. Persekusi berarti pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti. Komnas HAM  mencatat, ada 47 kasus persekusi di seluruh Indonesia sejak Pilkada Jakarta. Sementara lembaga pemerhati kebebasan berekspresi Asia, SAFENET, mendata 60 orang jadi korban persekusi dalam 5 bulan pertama tahun ini.

Dari sekian banyak kasus, baru satu yang ditangani polisi. Kata polisi, mereka baru bisa bertindak kalau ada laporan warga. Padahal intimidasi nyata ada di depan mata, dilakukan oleh kelompok yang bertindak sewenang-wenang, sementara polisi harusnya memberi rasa aman kepada setiap warga.

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Persekusi membuka nomor khusus bagi mereka yang merasa jadi sasaran. Aparat seharusnya bersikap lebih responsif dan tak boleh membiarkan initimidasi atau tekanan apapun dilakukan siapa pun alias main hakim sendiri. Persekusi harus dihentikan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.