Orang Hilang

Banyak di antara mereka hingga kini tak jelas keberadaannya. Apakah sudah tiada, atau masih dalam sekapan seperti orang-orang yang hilang pada peristiwa 98.

Selasa, 29 Mei 2018 13:17 WIB

Ilustrasi: Penghilangan Paksa

Ilustrasi: Penghilangan Paksa

Setiap akhir Mei, dunia internasional memperingati  Pekan  Anti-Penghilangan Paksa. Peringatan selama seminggu itu didedikasikan kepada orang-orang yang hingga kini masih hilang karena berbagai sebab. Gerakan antipenghilangan paksa ini semula muncul di negara-negara Amerika latin pada 1960an. Krisis politik yang berujung pada campur tangan militer membuat ribuan tahanan politik menjadi korban penghilangan paksa. Desakan dunia internasional itulah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 38 tahun silam mengeluarkan resolusi orang hilang.

Penghilangan orang secara paksa tak hanya terjadi di Amerika latin.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat  puluhan ribu orang yang menjadi korban penghilangan atau penculikan sejak tragedi  1965. Banyak di antara mereka hingga kini tak jelas keberadaannya. Apakah sudah tiada, atau masih dalam sekapan seperti orang-orang yang hilang pada peristiwa 98.  

Kelompok Kerja PBB untuk  Penghilangan Paksa (UNWGEID), dalam laporan tahunannya pernah mencatat penghilangan paksa merupakan masalah hak asasi manusia utama di  83 negara. Itu sebab, desakannya tak hanya mengembalikan para orang hilang tapi juga memproses hukum setiap pelaku penghilangan paksa. Tak boleh ada impunitas pada para pelanggar HAM itu, apapun pangkatnya.

Negara sepatutnya memberi keadilan pada keluarga orang hilang. Hingga kini mereka  masih berharap orang yang dihilangkan secara paksa itu kembali. Kalaupun tidak, minimal ada pengakuan dan upaya dari negara untuk mengungkap tuntas keberadaan mereka yang dihilangkan secara paksa dan mengadili para pelakunya.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang