Kembalinya Orde Baru?

Gerbong Soeharto mulai bangkit kembali, bahkan ikut mendirikan partai politik untuk pemilu 2019. Keluarga Soeharto ingin kembali berkuasa.

Rabu, 23 Mei 2018 10:38 WIB

Pameran fotografi, video, memoar, grafis, mural dan musik yang mengangkat tema Segenggam Refleksi Reformasi tersebut dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Pekan ini, 20 tahun lalu, Soeharto mundur dari kursi Presiden. Setelah 32 tahun berkuasa, Soeharto tak kuasa menahan laju arus perubahan yang didorong anak-anak muda, mahasiswa dan aktivis pergerakan. Ia lengser dengan menorehkan banyak jasa, tapi juga tak sedikit noda hitam.

Sidang MPR bahkan mengeluarkan Ketetapan yang secara terang benderang memerintahkan pengusutan hukum terhadap Soeharto dan kroni-kroninya karena diyakini bermasalah selama berkuasa. Ketetapan MPR itu tidak dihapus hingga kini.

Namun selama beberapa tahun terakhir banyak orang kembali memujanya. Seolah menyesalkan tumbangnya Orde Baru dan lahirnya reformasi. Gerbong Soeharto mulai bangkit kembali, bahkan ikut mendirikan partai politik untuk pemilu 2019. Keluarga Soeharto ingin kembali berkuasa. 

Anak Soeharto, Tommy melalui Partai Berkarya terang-terangan mengusulkan agar presiden kembali dipilih MPR dengan berbagai alasan yang seolah rasional.

Sulit dimengerti jika usulan keluarga Soeharto itu benar-benar bertujuan untuk memperbaiki kualitas demokrasi negeri ini. Juga sulit dipercaya jika usulan itu mendapat sambutan hangat dari beberapa politisi atau partai politik.

Pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat merupakan amanat konstitusi hasil amandemen, yang lahir dari pergolakan panjang dan perlawanan terhadap rezim Soeharto. Gagasan itu juga dilahirkan dari rahim pemikiran para cendekiawan, akademisi dan guru bangsa.

Demam Soeharto mungkin saat ini tidak terlalu bergaung luas. Namun tidak mustahil partai-partai pemuja Soeharto akan mendapat banyak dukungan pada pemilu mendatang, jika bangsa ini tidak mau belajar dari sejarah. Ketika pendulum global sedang bergerak maju ke tatanan dunia baru, jangan sampai bangsa ini bergerak mundur dengan mengakomodasi ide-ide konservatif dan romantisme masa lalu. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang