Survei Indikator: Tren Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Terus Naik

Kendati selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo masih jauh, namun angka yang diperoleh Prabowo tetap menjanjikan. Sebab angka itu dicapai sebelum Prabowo menerima mandat bertarung di Pilpres 2019.

Jumat, 04 Mei 2018 16:21 WIB

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi memaparkan hasil survei saat rilis survei nasional di Jakarta, Kamis (3/5). (Foto: ANTARA/Hafidz M)

KBR, Jakarta - Lembaga survei politik Indikator Politik Indonesia (IPI) mencatat Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih jadi dua nama terkuat yang mungkin bertarung dalam pilpres tahun depan. Direktur Eksekutif IPI, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan berdasarkan survei yang mengharuskan responden memberi jawaban secara spontan, elektabilitas Jokowi masih unggul, diikuti Prabowo.

"Pak Jokowi meningkat. September 2017, yang memilih Pak Jokowi dengan simulasi spontan 34,2 persen. Sekarang 39,9 persen," kata Burhanuddin di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

"Yang Pak Prabowo ada peningkatan juga. Dulu 11,5 persen di September, Maret 2018 naik sedikit meski tidak signifikan di 12, 1 persen," tambah Burhanuddin.

Elektabilitas dua nama tersebut jauh mengungguli nama-nama lain seperti Anies Baswedan, Zainul Majdi, Gatot Nurmantyo, hingga Agus Harimurti Yudhoyono.

Kendati selisih antara elektabilitas Jokowi dan Prabowo masih jauh, namun menurut Burhanuddin angka yang diperoleh Prabowo tetap menjanjikan. Pasalnya, angka itu dicapai sebelum Prabowo menerima mandat dari Gerindra untuk bertarung di Pilpres 2019.

Baca juga:

IPI juga mencoba mencari nama-nama yang dianggap sanggup mendongkrak elektabilitas keduanya. Dari hasil survei sebanyak 16,3 persen pemilih menginginkan Jokowi berpasangan dengan politikus muda Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara 15,1 persen responden memandang Prabowo pantas didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sekalipun poros Gerindra dan PKS nantinya batal mengusung Prabowo dan memutuskan memajukan nama baru seperti Gatot Nurmantyo maupun Anies Baswedan, Burhanuddin mengatakan bukan berarti seluruh kantong suara Prabowo akan beralih ke nama baru tersebut. Sebaliknya, kata dia, Jokowi dan nama baru itu akan bersaing imbang memperebutkan suara para pendukung Prabowo.

"Hingga saat ini belum tampak calon lain yang memiliki dinamika cukup besar dalam konteks pemilihan presiden."

Menanggapi hasil survei tersebut, politikus PKS Mardani Ali Serta mendesak Gerindra segera mengumumkan nama capres dan cawapres yang akan diusung pada Pilpres mendatang. Upaya itu diharapkan dapat mengejar ketertinggalan elektabilitas Prabowo dari Jokowi.

Baca juga:

Sejak awal mengumumkan poros PKS dan Gerindra, PKS memang kerap merayu Gerindra untuk segera meminang nama yang disodorkannya sebagai cawapres. Sementara Gerindra justru memilih menunggu sembari berkomunikasi dengan sejumlah partai lain.

"Sekuat Pak Prabowo gap-nya masih besar. Pak Prabowo penantang. Yang diinginkan PKS segera bekerja, segera set up tim. Kalau boleh, sepuluh nama menteri utama segera umumkan. Agar masyarakat tidak seperti membeli kucing dalam karung," tutur Mardani Ali.

Mardani pun mengingatkan, dengan waktu yang singkat, sebaiknya Gerindra tidak menunggu dukungan partai lain yang belum pasti. Dua gerbong PKS dan Gerindra saja menurutnya sudah cukup untuk mengantarkan Prabowo bertanding di pilpres mendatang. Sehingga, kata dia, tidak ada alasan lagi bagi Gerindra untuk tetap menunggu.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".