Tangkal Terorisme, Pemerintah Disarankan Buat Daftar Organisasi Terlarang

"Masyarakat akan sadar ini organisasi terlarang, kegiatan terlarang. jadi ada self control, self sensor yang bisa dihidupkan masyarakat,"

Senin, 12 Des 2016 14:19 WIB

Ilustrasi: Helmi Purnama terpidana 4 tahun penjara pendukung ISIS. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Pemerintah disarankan mengadopsi langkah yang dilakukan Dewan Keamanan PBB dalam menanggulangi terorisme. Langkah tersebut yaitu dengan membuat daftar organisasi terlarang di Indonesia.

Pengamat Terorisme Al Chaidar, mengatakan saat ini para pengikut terorisme semakin kuat. Salah satu contohnya pengikut Bahrun Naim yang kembali melakukan teror di Indonesia. Langkah tersebut, kata dia patut dicoba karena akan melibatkan masyarakat secara lebih aktif. Masyarakat akan lebih peka dan sadar terhadap sekeliling mereka.

"Kalau itu dibuat masyarakat akan aware dengan sendirinya. Masyarakat akan sadar ini organisasi terlarang, kegiatan terlarang. jadi ada self control, self sensor yang bisa dihidupkan masyarakat, dengan aplikasi yang dibuat pemerintah. Jadi masyarakat juga ngga bisa berpartisipasi dalam upaya pencegahan terorisme ini karena pemerintah tak menyediakan instrumennya,"ujarnya kepada KBR, Senin (12/12).

Al Chaidar menambahkan pemerintah juga perlu mengkaji ulang program deradikalisasi yang dinilai tidak berhasil mencegah para napi teroris melakukan hal serupa.

"Ya harus adil ya program deradikalisasi, tapi Jokowi harus jeli bahwa orang yang ikut program ini ternyata ikut lagi menjadi residivis.  jadi saya kira program ini perlu di-review orang, perlu ditambah dengan program humanisasi," ungkapnya.

Wacana berbau pancasila yang digembar gemporkan pemerintah, dinilai Chaidar juga usang dan tak mempan terhadap para militan tersebut. Seharusnya ada pendekatan baru yang lebih bisa diterima model kelompok tersebut.

"Perlu adanya kontra wacana, perlu sekali karena selama ini pemerintah lebih sibuk berbicara pancasila, sementara itu tidak termakan lagi kelompok ini. Ini ide usang ide lama yang tidak diperbaharui. Terlalu usang untuk dikemukakan," pungkasnya.

Sebelumnya, Al Chaidar menyebut ada peningkatan kekuatan pengikut Bahrun Naim di Indonesia. Kekuatan ini terlihat dari serangkaian aksi teror yang dilakukan kelompok tersebut. Semisal teror yang semakin berani dengan menargetkan ring 1, teror dilakukan dengan bom daya ledak tinggi, bukan lagi rendah, dan sang "Pengantin" juga dilakukan oleh perempuan. Faktor yang terakhir disebut Al Chaidar juga jadi modus baru dalam gerakan terorsis.

Dia memperkirakan saat ini sudah ada tiga  jutaan simpatisan ISIS. Sementara pasukan militernya sudah mencapai 200 hingga 250 orang, dua persennya disebut berada di Indonesia. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan