Mendiang Intan Olivia (2,5 tahun), korban teror bom gereja Oikumene Samarinda. (Sumber: Medsos)



KBR, Jakarta- Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tito Karnavian mengatakan, pelaku peledakan di Gereja Samarinda adalah bekas narapidana kasus teroris. Pelaku bernama Juhanda merupakan pelaku percobaan pengeboman di Serpong dan bom buku di Utan Kayu, Jakarta Timur pada 2011 lalu.

Menurut Tito, kembalinya para pelaku ini menunjukkan bahwa program deradikalisasi belum efektif.

"Ya saya kira program deradikalisasi itu perlu dievaluasi," kata Tito di Mako Brimob Pori, Depok, Senin (14/11/16).

Namun Tito enggan menjabarkan apa saja yang perlu dievaluasi dari program deradikalisasi tersebut. Ia mengatakan, akan membahas hal ini dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pihak-pihak terkait.

"Nanti, kita (evaluasi) bersama BNPT," ujar Tito.

Sementara itu, Juru Bicara Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, tidak ada pengawasan khusus oleh Densus 88 Antiteror terhadap bekas narapidana teroris.

"Secara khusus tidak ada, tetapi pada mereka-mereka yang dicurigai itu tetap dilakukan," kata Boy di Mabes Polri, Senin (14/11/16).

Pengawasan oleh polisi, menurut Boy, dilakukan terhadap orang-orang yang masih berhubungan dengan jaringan teroris. Ia mencontohkan, seperti pengawasan terhadap orang-orang yang mengunjungi pemimpin  Jamaah Anshar Daulah (JAD), Aman Abdurrahman, dan juga pemimpin Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Abu Bakar Ba'asyir.

"Terutama mereka yang memiliki aktivitas yang masih kedapatan berhubungan dengan pihak-pihak jaringan teror memang ada pengawasan khusus," jelasnya.

Kepolisian Samarinda telah menetapkan satu orang tersangka bernama Juhanda alias Jo. Selain itu, polisi juga telah menangkap 15 orang yang diduga terkait dengan peledakan di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Ledakan bom molotov di Gereja Oikumene, terjadi sekitar pukul 10.10 WITA pagi kemarin, Minggu (13/11). Sebagian jemaat masih dalam gereja melaksanakan ibadah, sedangkan sejumlah di antaranya berada di area parkiran kendaraan. Tiba-tiba pelaku datang mengenakan kaus dan celana hitam melemparkan bom molotov. Bom ini langsung meledak serta melukai empat orang yang masih anak-anak. Seorang di antaranya, Intan Olivia (2,5 tahun) pagi tadi menghembuskan nafas terakhir lantaran prahnya luka yang diderita.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!