Aksi 212, Rohaniwan: Minoritas Mulai Merasa Terancam

"Ketakutan itu ada. Mereka yang lebih punya uang, memilih pergi ke luar negeri pada 2 Desember nanti," kata Benny.

Senin, 28 Nov 2016 16:18 WIB

Seseorang meletakkan bunga dalam aksi peringatan korban teror bom Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur di jakarta, (15/11/2016). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Rohaniwan sekaligus pengamat sosial Benny Susetyo menyebut banyak masyarakat minoritas merasa terancam dengan aksi yang akan dilakukan pada 2 November mendatang.

Benny Susetyo mengatakan isu yang dibawa pada Aksi Bela Islam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) Jilid III sudah menimbulkan keresahan di masyarakat. Masalah itu bukan lagi berhenti di persoalan Ahok.

Benny mengatakan saat ini banyak masyarakat beragama Kristen atau dari etnis Tionghoa merasa khawatir akan menjadi sasaran.

"Persoalan-persoalan rasial itu muncul. Dan itu mulai dirasakan di daerah-daerah. Jadi ketegangan itu tergeser, bukan lagi semata-mata Ahok. Tetapi persoalan etnis tertentu yang menjadi sasaran kebencian dan ujaran kebencian," kata Benny usai konferensi pers kebhinekaan para tokoh toleransi, Senin (28/11/2016).

Baca juga:


Benny Susetyo mengatakan di beberapa daerah masyarakat yang beragama Kristen mulai khawatir menjadi sasaran. Sejak kejadian bom molotov di Samarinda Kalimantan Timur beberapa waktu lalu, ketegangan terasa meningkat. Banyak umat Kristen khawatir dengan keamanan mereka, termasuk saat Hari Raya Natal mendatang.

"Dari pembicaraan-pembicaraan di masyarakat, itu nyata. Ketakutan itu ada. Mereka yang lebih punya uang, memilih pergi ke luar negeri pada 2 Desember nanti," kata Benny.

Untuk meredakan ketegangan ini, Benny meminta para pejabat publik dan tokoh-tokoh masyarakat duduk bersama dan berdamai. Ini perlu dilakukan untuk mendinginkan suasana dan memperbaiki hubungan di masyarakat.

Benny mengapresiasi langkah Jokowi bertemu para petinggi partai dan tokoh-tokoh agama akhir-akhir ini. Namun, menurut Benny, upaya itu tidak bisa berhenti sampai di situ. Masyarakat masih melihat suasana para pihak pendukung demo anti Ahok masih panas.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPPU Belum Temukan Indikasi Monopoli PT IBU

  • Menristek Bakal Tindak Dosen HTI Sesuai Prosedur
  • PUPR Kejar Sejumlah Ruas Trans Sumatera Beroperasi 2018
  • Kelangkaan Garam, Kembali ditemukan Garam Tak Berlogo BPOM

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.