Perpanjangan Tahap II Masa Tanggap Darurat Banjir Garut Tunggu Evaluasi

Sementara masa tanggap darurat akan habis pada 4 Oktober mendatang, setelah sebelumnya diperpanjang pada 27 September 2016.

Sabtu, 01 Okt 2016 16:07 WIB

Petugas TNI mencari korban bencana banjir bandang pasca meluapnya aliran sungai Cimanuk di Lapangparis, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta - Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Garut bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD dan Pemerintah Kabupaten Garut tengah mengevaluasi proses penanganan dan evakuasi korban banjir bandang di Garut, Jawa Barat.

Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Garut Setyo Hani Susanto, mengatakan masih mempertimbangkan kemungkinan memperpanjang masa tanggap darurat di wilayah itu. Saat ini proses pencarian korban dan penanganan korban di titik pengungsian masih terus dilakukan. Sementara masa tanggap darurat periode pertama akan habis pada 4 Oktober mendatang, setelah sebelumnya diperpanjang pada 27 September 2016.

Kata dia, keputusan perpanjangan ada di tangan pemerintah daerah.

"Statusnya masih sampai tanggal 4 Oktober nanti kita evaluasi tergantung nanti Bupati perpanjangannya. Inikan sudah sesuai UU Peraturan BNPB 6 A, tujuh hari diperpanjang tujuh hari. Nanti kita evaluasi, setiap hari kita evaluasi pekerjaan ini," jelasnya Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Garut, Setyo Hani Susanto kepada KBR, Sabtu (1/10/2016)

Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Garut Setyo Hani Susanto menambahkan, kini timnya masih fokus pada pencarian korban baik yang meninggal maupun korban hilang. Selain itu juga pada penanganan korban di pengungsian dan rumah warga.

Baca juga:

Pencarian korban, lanjut Setyo, diperluas hingga Waduk Jati Gede Sumedang. Sebab, di lokasi itu sudah ditemukan enam korban meninggal.

"Kita fokuskan pencarian di Waduk Jatigede, kita menggunakan Beko Apung, seluruh kekuatan SAR kita kerahkan di Waduk Jati Gede. Penanganan pengungsi sudah kita optimalkan. Korban yang meninggal 34, dan dinyatakan hilang 19 orang," jelasnya.

"Di Waduk Jatigede kendalanya sampah yang menggunung, kita gunakan beko untuk balik-balik sampah. Jika ada korban yang terapung," imbuh Setyo Hani.

Sedangkan, ia memastikan, bantuan makanan dan pakaian bagi para pengungsi jumlahnya sudah mencukupi. Saat ini, yang masih kurang adalah peralatan dapur bagi korban yang tak berada di lokasi pengungsian.

"Kalau bantuan Alhamdulillah terus mengalir, bantuan banyak terutama makanan dan pakaian dan obat-obatan sudah cukup. Kami butuh bantuan peralatan dapur saja, untuk korban yang tidak mengungsi atau yang sudah kembali ke rumahnya," pungkasnya.


Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.