Sekitar Gunung Agung Seperti Kota Mati, Pemerintah Sulit Mendata Pengungsi

Di sejumlah desa yang berada pada radius 9-12 kilometer dari puncak Gunung Agung sudah sepi. Toko dan ruko semua kondisi tutup. Sekolah SD, SMP dan SMA juga diliburkan. Persis seperti kota mati.

Senin, 25 Sep 2017 11:32 WIB

Warga tinggal di pengungsian mengantisipasi erupsi Gunung Agung di Bali, Sabtu (23/9/2017). (Foto: K

Warga tinggal di pengungsian mengantisipasi erupsi Gunung Agung di Bali, Sabtu (23/9/2017). (Foto: KBR/Yulius Martony)

KBR, Karangasem - Ribuan warga di sekitar Gunung Agung, Provinsi Bali mengungsi dan menjauh dari radius sembilan hingga 12 kilometer dari puncak gunung.

Ancaman erupsi Gunung Agung membuat warga khawatir, dan sebagian mengungsi secara mandiri ke rumah-rumah warga. 

Kondisi itu membuat Pemerintah daerah di Provinsi Bali kesulitan mendata jumlah pengungsi di sekitar Gunung Agung. Warga yang mengungsi mengantisipasi ancaman erupsi Gunung Agung saat ini tersebar di tujuh kabupaten.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Sumantri mengatakan saat ini ada lebih dari 340.900 orang yang mengungsi di 238 tempat pengungsian. Banyaknya tempat pengungsian itu menyulitkan pendataan oleh pemerintah daerah.

"Tidak hanya di Karangasem saja tetapi juga ada di Bangli, Buleleng, Klungkung bahkan ada di Denpasar. Namun yang akan kami tanggung nantinya adalah yang mengungsi berkelompok. Jadi yang mengungsi di rumah masyarakat, keluarganya yang di bawah jumlah seratus orang kami tidak bisa menjangkau ke sana", kata I Gusti Ayu Sumantri, Minggu (24/9/2017).

Saat ini pengungsi juga banyak tersebar di banjar-banjar dan pekarangan kosong. Karena itu, Bupati Karangasem I Gusti Ayu mengatakan relokasi pengungsi dibutuhkan untuk mengurangi titik pengungsian menjadi hanya 30 hingga 50 titik pengungsian saja.

Sejumlah posko pengungsian antara lain GOR Swecapura, Klungkung, Posko Lapangan Rendang dan Posko Manggis.

Saat ini banyak warga mengungsi secara mandiri, seperti warga Desa Sebudi yang sudah mengungsi sejak sebelum ada peringatan evakuasi. Mereka memilih meninggalkan desanya yang berjarak enam kilometer dari puncak Gunung Agung. Warga memilih mengontrak rumah selama satu tahun ke depan di daerah Klungkung. 

Baca juga:

Data pengungsi

Pengungsian lain adalah di Desa Nongan yang menerima sebanyak 4.700 orang pengungsi dari Besakih, Sebudi, Penjeng, Pura dan Thelung Buana. Para pengungsi ditempatkan di Banjar-Banjar dan Wantilan di sekitar Desa Songan. 

Di Kecamatan Tejakula, pengungsian berada di Desa Les sebanyak 1.685 orang. Kemudian di Desa Tembok sebanyak 3.006 orang. Para pengungsi ditempatkan di gedung serba guna Desa Tembok, Balai Banjar Dakem Purwo, kantor kelian Dusun Dadap, kantor kelian Dusun Bulakan dan sejumlah tempat lainnya. 

Di Desa Penuktukan terdapat pengungsi sebanyak 503 orang, di desa Sambirenteng sebanyak 274 orang dan di desa Sembiran, Madenan dan Tejakula sebanyak 150 orang pengungsi. Sebagian besar ditampung di rumah keluarga.

Data dari Pemerintah Daerah Bali menyebut jumlah pengungsi di seluruh kabupaten Karangasem mencapai 8.295 orang dan pengungsi dari luar Kabupaten Karangasem sebanyak 4.153 jiwa. Total pengungsi sebanyak 12.448 jiwa. 

Kota mati

Hasil pantauan di sejumlah desa yang berada pada radius 9-12 kilometer dari puncak Gunung Agung sudah sepi. Toko dan ruko semua kondisi tutup. Sekolah SD, SMP dan SMA juga diliburkan. Persis seperti kota mati.

Beberapa orang terlihat bersiaga sambil membawa alat komunikasi handy talkie. Sedangkan sejumlah anggota polisi terus berpatroli untuk memastikan warga sudah mengungsi.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi PVMBG I Gede Suwantika mengatakan dalam beberapa hari ini jumlah gempa sudah berkurang, namun kekuatan gempa vulkanik makin membesar. Ia khawatir letusan Gunung Agung terjadi secara sekaligus. Ia berharap Gunung Agung bisa mengeluarkan letusan secara bertahap seperti halnya letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara. 

Gede Suwantika mengatakan gempa tektonik yang terjadi saat ini berasal dari tekanan magma Gunung Agung yang diperkirakan masih bergerak di 2 hingga 10 kilometer dari bawah laut, dengan suhu magma berkisar 1.500 derajat Celcius.

"Kita tunggu erupsinya, kita tunggu titik api dan abu vulkaniknya keluar namun kita akan evaluasi lagi jika gempanya terus menurun", ujarnya. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR Tetapkan Tujuh Anggota Komnas HAM

  • Polisi Masih Dalami Politikus Penyandang Dana Saracen
  • DKI Ubah Trayek Angkutan Umum demi Program OK-OTRIP
  • Tidak Ada Logo Palu Arit di Spanduk Yang Digunakan Warga Demo Tolak Tambang Emas