Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil. (Foto: Setkab)



KBR, Jakarta - Pemerintah menargetkan paling lambat  2025, setiap   lahan di seluruh Indonesia sudah tersertifikasi. Oleh karenanya, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil mendorong masyarakat untuk segera mensertifikasi tanahnya.

Dia memastikan tidak akan mempersulit prosesnya. Kata dia saat ini baru sekitar 45 persen lahan di seluruh Indonesia yang sudah tersertifikasi.

"Lahan di Indonesia itu baru sekitar 45 persen yang baru tersertifikasi. Terutama di kota besar. Untuk itu BPN dan Menteri ATR ini akan mempercepat. Kita harapkan tahun 2025, jika mungkin seluruh tanah dan lahan di Indonesia sudah tersertifikasi," ucapnya kepada wartawan usai mewakili Wakil Presiden, Jusuf Kalla   menyerahkan hewan kurbannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/09).

Kata dia, untuk wilayah percontohan, pihaknya akan menjadikan Jakarta, Surabaya dan Batam, wilayah yang lahannya sudah tersertifikasi semuanya paling lambat hingga  2017 mendatang. Selanjutnya akan disusul daerah-daerah lain yang dianggap prioritas dalam pelaksanaan program tersebut.

"Tahun 2016-2017 kita punya pilot projek seluruh tanah di Jakarta terpetakan terdaftar dan tersertifikasi. Juga Surabaya dan Batam itu sebagai pilot project-nya," ujarnya.

Selain itu kata dia, pihaknya juga akan memprioritaskan sertifikasi lahan perkebunan milik masyarakat. Dengan begitu kata dia, nantinya masyarakat kecil bisa menggunakan sertifikat lahan tersebut sebagai jaminan pinjaman ke bank untuk mengembangkan usahanya.

"Ini kita akan kita lanjutkan untuk serifikasi kebun milik rakyat. Supaya rakyat itu, sawit mendapatkan sertfikasi sawit sustainable. Dengan memberikan sertifikat, masyarakat akan bisa membuat jaminan di bank," tambahnya.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!