Liliyana Natsir Isyaratkan Gantung Raket

Pebulutangkis Indonesia Liliyana Natsir mengisyaratkan untuk gantung raket usai gelaran Olimpiade Rio.

Rabu, 24 Agus 2016 12:58 WIB

Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir saat bertanding melawan pasangan Malaysia Peng Soon Chan dan Liu Ying Goh dalam final ganda campuran bulu tangkis Olimpiade Rio 2016 di RIo de Janeiro, Brazil,

KBR, Jakarta - Pebulutangkis Indonesia Liliyana Natsir mengisyaratkan untuk gantung raket usai gelaran Olimpiade Rio. Namun, pasangan emasnya Tontowi Ahmad membujuknya untuk menunda rencana tersebut. Tak hanya Tontowi, sang pelatih Richard Mainaky juga memintanya untuk tetap bermain.

"Harus diskusi dengan keluarga, dengan Tontowi, jujur dari kemarin dia ngomong, 'Cik, jangan berhenti dulu lah, ayolah, kita masih bisa'," kisah Liliyana seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Rabu (24/8/2016).

Liliyana yang akrab disapa Butet ini menyadari usianya tidak muda lagi untuk ukuran seorang atlet. Padahal, kata dia, menjadi atlet bulutangkis membutuhkan kekuatan dan stamina prima.

"Saya nggak mau menjalankan tapi saya sudah nggak prima lagi. Saya ingin setiap kali saya turun, saya harus menyumbangkan medali," lanjutnya.

Liliyana Natsir telah tampil di tiga olimpiade sejak Olimpiade Beijing 2008. Ia mempersembahkan dua medali, yakni perak di Olimpiade Beijing berpasangan dengan Nova Widianto, dan emas di Olimpiade Rio 2016 berpasangan dengan Tontowi Ahmad.

Bersama Tontowi, Liliyana juga menorehkan prestasi tertinggi di sejumlah turnamen bergengsi dunia, di antaranya sebagai juara dunia selama tiga kali, di tahun 2005, 2007 dan 2013. Mereka juga berhasil memuncaki panggung kejuaraan All England tahun 2012 dan 2014.

Pagi tadi, Butet dan Owi --sapaan Tontowi, diarak dari gedung Kemenpora menuju Istana Negara. Di sana, mereka disambut Presiden Jokowi. Bekas gubernur DKI Jakarta ini mengucapkan selamat dan terima kasih atas perjuangan para atlet yang berlaga pada Olimpiade Rio 2016. Ini disampaikan Jokowi usai bertemu dengan rombongan kontingen olimpiade hari ini di Istana Merdeka.

Kata dia, perolehan 1 emas dan 2 perak merupakan hasil perjuangan yang panjang. Hasil ini lebih baik daripada capaian di Olimpiade London empat tahun lalu.

"Hasil yang telah dicapai adalah sebuah hasil maksimal, kalau di London 2012 dulu kita mendapatkan dua medali, 1 perak, 1 perunggu, sekarang kita mendapatkan 2 perak dan 1 emas. Dan ini adalah sebuah perjalanan kerja keras yang panjang, baik dari cabang-cabang olahraga yang ada, yang menata perencanaannya dengan baik, bukan sesuatu yang instan," kata Jokowi di Istana Merdeka, Rabu (24/8/2016).

Baca juga:
Menpora: Bonus Olimpiade Rio Beres Setelah Gelaran Paralympic
Tak Punya Darah Batak, Ini Asal Mula Liliyana Natsir Dipanggil Butet




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.