Pasukan anti teror Raider Kodam Iskandar Muda melakukan penyergapan saat simulasi penanganan teroris di Sungai Krueng Aceh, Banda Aceh, Kamis (18/8). ANTARA FOTO



KBR, Jakarta -  Pensiunan TNI AD, Kivlan Zein menyebut ada kelompok perunding lain yang mengaku dari Indonesia dan menawarkan uang tebusan kepada kelompok Abu Sayyaf. Informasi itu, kata dia, ia dapat dari intelijen Filipina. Dia pun tengah mencari tahu kebenaran informasi tersebut.

"Orang dari Indonesia, saya akan cek itu, tetapi saya tidak memakai uang tebusan," kata Kivlan ketika dihubungi KBR, Jumat (19/8/2016)

Kivlan juga meyakini bebasnya dua sandera TB Charles yakni Muhamad Sofyan dan Ismail bukan karena uang tebusan. Tapi karena serangan militer pemerintah Filipina yang berhasil menewaskan salah satu pentolan kelompok itu.

"Waktu pimpinanya kita bunuh, keduanya melarikan diri. Karena tekanan pasukan Moro mereka kocar-kacir, ini kesempatan waktu kelompok itu lengah, mereka melarikan diri," ujarnya.

Baca juga:
WNI Disandera, Panglima TNI: Kita Serahkan Saja Semuanya Pada Filipina
Panglima TNI: Keberadaan Kivlan Zein Mewakili TB Charles

Kata dia, hingga saat ini perundingan untuk membeaskan sisa sandera masih berlanjut. Ia menyebut, proses runding akan terus berjalan meski Muhamad Sofyan dan Ismail, berhasil lolos.

"Ini sedang perundingan. Belum aksi, sedang perundingan. Nanti Sofyan dan Ismail sudah ada di tangan saya, urusan saya," jelas Kivlan Zein kepada KBR.

Kivlan menambahkan, kedua saat ini sudah dalam perlindungan pemerintah Indonesia.

Muhamad Sofyan dan Ismail merupakan bagian dari tujuh ABK TB Charles yang disandera sejak akhir Juni lalu. Penyandera dilaporkan meminta tebusan sebesar 20 juta ringgit atau sekitar Rp60 miliar, jika tidak maka penyandera akan memenggal kepala para awak kapal.

Selain ketujuh anak buah kapal itu, ada pula tiga WNI yang disandera sejak 9 Juli. Mereka adalah ABK kapal pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Lim, berbendera Malaysia.

Penyanderaan WNI ini merupakan yang ketiga kalinya sepanjang 2016 ini dan telah menimpa 24 WNI. Dengan lolosnya Muhammad Sofyan dan Ismail, berarti ada delapan WNI yang masih disandera.




Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!