Tim Labfor Polri berada di kawasan Vihara Tri Ratna pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Sabtu (30/7). Foto: Antara


KBR, Jakarta- Jumlah tersangka kasus perusakan dan pembakaran wihara dan kelenteng Tanjungbalai, Sumatera Utara bertambah menjadi 21 orang. Kepala Polres Tanjungbalai, Ayep Wahyu, dari puluhan yang ditangkap, hanya dua saja yang ditahan. Sementara sisanya ditangguhkan penahanannya. 

Dua orang tersangka ini, kata Ayep merupakan provokator di lapangan yang menghasut warga untuk melakukan kekerasan, pembakaran wihara dan kelenteng.

"Jadi tersangka itu dari 21, yang ditahan 20.Itu terkahir belum ada penahanan. Tapi kita lakukan penangguhan penahanan 11 orang yang terkait pencurian, pembakaran, penjarahan dan pencurian. Dua orang kita tahan terkait perannya sebagai provokator,"ujar Ayep kepada KBR, Minggu (7/8/2016)

Baca: Polri Selidiki Dalang Kasus Rusuh di Tanjungbalai

Ayep menambahkan belasan tersangka, dan tujuh tersangka yang masih dibawah umur masih diteruskan pemeriksaan, meski penahanannya ditangguhkan. Sementara untuk provokator di jejaring sosial, diinvetigasi langsung oleh Polda Sumut.

"Proses penyidiskan masih terus berjalan.Dari 20 yang ditahan, tujuh anak anak, kita kembalikan ke orang tuanya, 11 kita tangguhkan penahanannya. Sementara satu orang yang prosesnya masih dalam pemeriksaan, dia koperatif, kita tangguhkan juga,"tambahnya.

Kerusuhan di Tanjungbalai terjadi Jumat malam, 29 Juli lalu. Kerusuhan diawali dari protes seorang warga Tionghoa atas penggunaan pengeras suara masjid. Peristiwa itu melebar menjadi kerusuhan yang menyebabkan belasan wihara dan kleenteng dirusak, dibakar dan dijarah.


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!