Banjir Lumpur Pulau Merah, Komunitas Lingkungan Duga Akibat Peledakan di Areal Tambang

Komunitas pecinta lingkungan Banyuwangi menduga banjir lumpur di Pantai Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur disebabkan aktivitas penambangan PT Bumi Suksesindo (BSI).

Sabtu, 20 Agus 2016 20:40 WIB

Kondisi pantai Pulau Merah pasca banjir lumpur

Kondisi pantai Pulau Merah pasca banjir lumpur . (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Komunitas pecinta lingkungan Banyuwangi Forum for Environmental Learning (BAFFEL) menduga banjir lumpur di Pantai Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur disebabkan aktivitas penambangan PT Bumi Suksesindo (BSI).

Juru bicara BAFFEL Rosdi Bahtiar Martadi mengatakan, akhir April lalu perusahaan melakukan peledakan di areal penambangan. Padahal, wilayah Gunung Tumpang Pitu termasuk rentan karena merupakan kawasan hutan lindung dan rawan bencana. Menurutnya, baru kali ini terjadi banjir lumpur di pantai tersebut.

"Dan yang kemudian kadang lupa diingat orang kan, kaitannya sama peledakan perdana, itu kan April kalau nggak salah tanggal 27 April 2016, artinya nggak butuh waktu setahun dari peledakan itu, udah ada dampak duluan," kata Rosdi ketika dihubungi KBR, Sabtu (20/8/2016).

Rosdi Bahtiar Martadi menambahkan, selama ini warga kesulitan memantau aktivitas penambangan di areal perusahaan. Kata dia, perusahaan melarang mereka masuk dengan dalih kawasan tersebut telah menjadi obyek vital nasional.

"Padahal itu sesuatu yang normal, keinginan warga untuk masuk melihat apa benar sih ini dam-nya ada, itu keinginan normal sebetulnya karena itu menyangkut keselamatan warga," ujarnya.

Rosdi mengaku bakal berkoordinasi dengan jaringan masyarakat peduli lingkungan di Banyuwangi untuk menentukan sikap pascakejadian tersebut.

"Untuk jangka pendeknya, (kami) mengabarkan ini lewat media sosial," lanjutnya.

Sementara, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) meminta pemerintah memberi perhatian serius atas kejadian ini. Pemerintah seharusnya segera melakukan evaluasi tentang rencana penambangan emas di Tumpang Pitu, mengingat besarnya potensi kerusakan pada lingkungan.

"Ini adalah momentum untuk seluruh pihak, terutama Kementerian ESDM, gubernur dan bupati di sana, untuk mengevaluasi rencana penambangan  emas di Tumpang Pitu, jangan sampai  ini justru akan memperparah keadaan," kata Koordinator Nasional JATAM Merah Johansyah.



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Per 1 September, Beras Medium Tak Boleh Dijual di Atas Rp 9.450

  • Kemendikbud: Kawasan di Cigugur, Kuningan Bukan Cagar Budaya
  • 10 Desa di Jateng Segera Punya Perdes Perlindungan Buruh Migran
  • Ini Dampak Topan Hato di Cina Selatan

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.