BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi, Ini yang Bikin Nelayan Cilacap Nekat Melaut

"Nelayan sih banyak yang berangkat melaut. Sebenarnya sih, ya takut. Peringatan dini gelombang tinggi juga sudah diterima teman-teman nelayan,"

Kamis, 26 Jul 2018 10:10 WIB

Sejumlah warga berusaha menghindar saat gelombang tinggi menerjang pemecah ombak di Pantai Widarapayung, Binangun, Cilacap, Jateng, Rabu (25/7). (Foto: Antara)

KBR, Cilacap– Sebagian nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah nekat melaut meski gelombang setinggi enam hingga sembilan meter berpeluang terjadi di perairan selatan Cilacap dan Samudera Hindia antara 24-27 Juli 2018 ini.  Ketua Rukun Nelayan Pandanarang, Cilacap, Turmuji beralasan, sebagian nelayan tak memiliki pekerjaan lain sehingga nekat melaut. Sebab, jika tak melaut, mereka tak memiliki penghasilan lainnya.
 
Dia menyebut sekitar 20 persen perahu di Pandanarang tetap berangkat melaut. Jumlah total perahu di Pandanarang mencapai 480, dengan berbagai ukuran mulai dari 2 GT atau perahu jukung viber, hingga perahu berbobot sekitar 7 GT. Namun, sebagian besar memang nelayan perahu kecil yang amat rawan saat berlayar di tengah gelombang tinggi.
 
Dia mengakui, nelayan telah menerima peringatan dini dari BMKG mengenai gelombang setinggi empat hingga enam meter di perairan selatan dan mencapai sembilan meter di Samudera Hindia. Meski takut, nelayan tetap melaut.
 
Kata dia, nelayan  mengantisipasi bahaya gelombang tinggi dengan melaut tak jauh dari area pantai, atau dengan sistem jolokan. Nelayan melaut di jarak sekitar 4-5 mil  sehingga saat ada tanda-tanda naiknya gelombang, nelayan bisa secepatnya merapat ke pantai.

“Ya untuk perkembangan hari ini, nelayan sih banyak yang berangkat melaut, gitu. Sebenarnya sih, ya takut. Peringatan dini gelombang tinggi juga sudah diterima teman-teman nelayan, tapi bagaimana lagi, untuk kebutuhan juga sih. Ya melautnya tidak jauh, sekitar 4-5 mil lah,” kata Turmuji, Kamis (26/7/2018).
 
Sementara, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Sarjono mengklaim pihaknya telah mengimbau agar nelayan tak melaut hingga kondisi perairan normal. Namun, dia pun mengaku tak bisa mencegah nelayan yang nekat melaut saat terjadi gelombang tinggi. Sebab sebagian besar nelayan tak memiliki pekerjaan selain melaut.

Dia  mewajibkan agar nelayan menggunakan pelampung. Dengan begitu, saat terjadi kecelakaan air, mereka relatif memiliki kesempatan yang besar untuk selamat.

“Melihat situasi dan kondisi keluarga di rumah sangat membutuhkan, mau apa lagi. Cuma harus waspada. Nah, kami imbau kepada nelayan yang menggunakan perahu 5 GT, terutama perahu 2 GT Jukung Viber itu, jika melaut harus menggunakan pelampung, demi keselamatan kita bersama,” kata Sarjono.
 
Dia menambahkan, di cilacap terdapat 15 ribu lebih nelayan. Sebagian besar adalah nelayan berperahu kecil, dengan ukuran 2 dan 3 GT. Perahu sekecil ini mudah karam atau terbalik jika terhempas gelombang tinggi. Perahu pun terancam pecah jika didera ombak terus-menerus.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.