Teroris Serang Polda Riau, Eks JI Sebut Dilatih untuk Menghadapi Polisi

"Mereka dilatih khusus untuk melawan Polri baik itu saat pemboman maupun penembakan,"

Rabu, 16 Mei 2018 13:13 WIB

Suasana di lokasi penyerangan di jalan pintu masuk Polda Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (16/5). (Foto: Antara)

KBR Surabaya- Bekas kombatan Jamaah Islamiyah Ali Fauzi mengatakan, hampir seluruh anggota jaringan teroris sudah dibekali kemampuan dasar militer. Beberapa dari mereka berlatih di Suriah dan Irak. Mereka yang pulang lantas melatih anggota jaringan lainnya di Indonesia.

kata dia,  setiap pelatihan mereka memang dirancang untuk menghadapi polisi.

"Sekalipun tidak sempurna, mereka dapat basic militer. Mereka dilatih khusus untuk melawan Polri baik itu saat pemboman maupun penembakan," kata Ali saat dihubungi KBR, Selasa (15/5).

Kemampuan menggunakan senjata api adalah salah satu hal dasar yang diajarkan. Ali menjelaskan sebagian besar anggota jaringan yang aktif saat ini justru dilatih di Poso, Ambon, dan beberapa kota di pulau Jawa.

Mereka juga dibekali kemampuan merakit senjata api. Selain itu, senjata juga didapatkan melalui pasar gelap di Jawa dan Sumatera, atau diselundupkan dari Filipina. Pintu masuknya menurut Ali dari sejumlah pelabuhan di Indonesia. Itu karena pengamanan di pelabuhan selama ini lebih longgar dibandingkan bandara.

"Dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Karena memang deteksi pelabuhan dengan airport berbeda. Di bandara ada metal detector, sangat susah lewati. Tapi di pelabuhan, cek barang dan personal tidak ada yang kemudian menggunakan metal detector."

Pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian itu menambahkan aksi sporadis yang dilakukan sejak hari Minggu(13/5) lalu menunjukkan kekuatan pendukung ISIS di Indonesia cukup kuat. Mereka masih berjejaring dengan seluruh pendukung di Indonesia dan jaringan global.

Kemarin (Selasa, 15/5/2018) , Densus 88 Antiteror Mabes Polri menembak mati D terduga teroris yang tinggal di jalan Sikatan 4 RT 4/RW 1 Manukan Wetan, Surabaya Selatan. Informasi yang dihimpun, D adalah adik kandung AF, terduga teroris yang ditembak mati di Rusun Wonocolo kecamatan Taman Sidoarjo. 

Dari pantauan, tim gegana sempat meledakan bom yang ada di rumah D. Sementara itu, istri dan ketiga anak D kini diamankan oleh petugas, setelah penggerebekan.

"Sudah diamankan, ya bentar. Nanti saya kasih tahu," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan ketika dikonfirmasi di lokasi.

Rudi membenarkan kalau aparat juga mengamankan terduga teroris di Dukuh Pakis.

"Di sekitar Polsek Dukuh Pakis, tidak ada baku tembak. Tapi ada penindakan," pungkasnya.

Pasca sejumlah aksi serangan teror, polisi memperketat pengawasan terhadap deportan-deportan Suriah serta sejumlah pengikut Jamaah Ansharut Tauhid. Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto mengatakan, upaya antisipasi terus dilakukan dengan menggerebek sejumlah orang yang disinyalir akan bergerak.

"Tadi siang ada komponen-komponennya sudah cukup banyak. Yang kalau dirakit bisa menghasilkan banyak (bom) juga. Makanya kita cepat antisipasi. Senjata ada beberapa yang memang ditemukan saat penggeledahan," kata Setyo kepada KBR, Selasa (15/5).

Pasca ledakan di tiga gereja di Surabaya hari Minggu lalu, Densus 88 Antiteror sudah menggerebek sejumlah lokasi di antaranya Rusun Wanacala Sidoarjo, Cianjur, Palembang, Malang, kawasan Manukan Kulon serta Dukuh Pakis Surabaya. Dalam penggeledahan, polisi menyita sejumlah senjata api dan bahan peledak.

Di Cianjur, polisi menyita dua pucuk revolver. Polisi menyita 15 bahan peledak bom pipa siap pakai, 3 bom aktif, bahan dasar pembuat bom, sejumlah senapan angin, serta kabel dari rumah pengebom gereja di Surabaya. Di rumah Tri Murtiono, pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Surabaya, polisi juga menemukan 4 bom siap meledak, 2 bom aktif, detonator, serta peralatan timbang. Terakhir di Manukan Kulon, polisi menemukan 54 bom pipa.

"Mereka dibekali cara membela diri, merakit bom, dan memegang senjata. Pabrikan dan rakitan. Rakitan mereka membuat sendiri-sendiri. Kalau yang pabrikan itu diselundupkan."

Setyo mengakui polisi sempat mengendorkan pengawasan terhadap keluarga Dita Supriyanto, pelaku bom gereja di Surabaya beberapa bulan sebelum ledakan terjadi. Alasannya, kata dia, keluarga Dita dinilai sudah mulai berbaur dengan masyarakat.

"Tiga sampai empat bulan terakhir, Dita ini sudah berubah. Lebih memasyarakat. Anak-anak bisa bergaul dengan anak lain. Maka pengawasan ditarik karena skala prioritas lain yang perlu kita awasi lagi. Tapi ternyata itu jadi kesempatan dia merakit bom."

Sementara itu Deputi Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin mengatakan, kejadian itu tidak dapat disangka karena berasal dari sel-sel tidur yang pemantauannya dilakukan selama 24 jam penuh. Kata diam ketika satu sel tengah  dipantau, ternyata sel lainnya yang bergerak.

"Kita mempelajari bahwa kita tahu ada gerakan-gerakan tetapi ini kan terkait dengan aspek penegakan hukum itu kan Polri yang menangani, kemudian pada saat konsentrasi kita di lapas Kelapa Dua kemudian monitoring di lapangan bahwa di Surabaya tidak ada kegiatan yang menonjol. Ternyata akhirnya, terjadi juga ledakan, karena mereka adalah target-target yang oleh Mabes Polri mestinya sudah dipantau," kata Hamidin kepada KBR, Selasa (15/5/18).

Pagi tadi markas kepolisian Riau menjadi sasaran serangan.  Juru Bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto mengatakan  serangan yang dilakukan sekelompok orang terjadi  pada pukul 9. Dalam serangan tersebut 4 orang penyerang tewas diterjang timah panas anggota dan 1 orang ditangkap setelah sebelumnya berhasil melarikan diri.

Menurut Setyo kelima penyerang tersebut menggunakan mobil avanza untuk menerobos gerbang mapolres namun berhasil digagalkan petugas.

“Jadi saya sampaikan bahwa, polda Riau berhasil mematahkan penyerangan sekelompok orang tak dikenal. Bahwa pada hari Rabu tanggal 16 mei 2018, sekitar jam 09.00 WIB ada sebuah mobil yang menerobos Mapolda riau mobil itu avanza dengan plat nomor BM 1192 RQ,” ujar Setyo dalam rilisnya, (16/05/2018).

Selain keempat pelaku penyerangan, seorang anggota kepolisian juga tewas akibat tertabrak mobil pelaku yang berusaha melarikan diri. Bukan hanya korban jiwa, korban luka juga dialami oleh 2 petugas kepolisian dan 1 orang wartawan TV yang terserempet kendaraan pelaku saat melancarkan aksi penyerangan.

“Ini mengakibatkan 2 anggota luka, kemudian karena mereka menyerang 4 orang tewas, 1 orang sempat melarikan diri namun berhasil ditangkap, dan saat melarikan diri pelaku menyerempet satu wartawan atas nama Rian Rahman reporter TV One. Itu info terakhir yang kami dapat, nanti kita lihat perkembangannya lagi.” Ujar Setyo.

Setelah penyeragan tersebut polisi mengamankan satu buah mobil Avanza, tiga buah samurai, lima penutup muka, tiga pasang sepatu, sebuah handycam rusak, jaket, sarung tangan dan ikat kepala. Sementara semua barang bukti diamankan di Mapolrestabes Riau.

Editor: Rony Sitanggang 
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".