Sampah di Banyumas Menumpuk, TPA Kaliori Akhirnya Kembali Beroperasi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banyumas, Suyanto menuturkan, keputusan ini diambil setelah musyawarah dengan warga mencapai sepakat.

Senin, 28 Mei 2018 12:39 WIB

Ilustrasi: tumpukan sampah. (Foto: KBR/ Zainuddin S)

KBR, Purwokerto – Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memutuskan untuk mengoperasikan kembali Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaliori, Kecamatan Kalibagor mulai hari ini, Senin (28/5/2018). Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banyumas, Suyanto menuturkan, keputusan ini diambil setelah musyawarah dengan warga mencapai sepakat.

Pemerintah, kata dia, menyanggupi sejumlah syarat yang diajukan warga. Antara lain pembangunan infrastrutur dan pelbagai instalasi pengolahan sampah di TPA Kaliori, serta kompensasi bagi warga terdampak.

Sebelumnya, nyaris dua bulan belakangan TPA Kaliori itu tak beroperasi karena protes warga. Menurut warga, tempat penimbunan sampah itu dianggap menjadi biang pencemaran udara, tanah dan air.

Dia menjelaskan, keputusan itu juga diambil setelah mempertimbangkan volume sampah yang tak terangkut di Kota Purwokerto. Sampah-sampah tersebut mengakibatkan masalah pencemaran dan sosial bagi masyarakat. 

Kendati, Suyanto mengklaim sejumlah instalasi pengolahan sampah sudah beroperasi baik. Talut atau bronjong yang sebelumnya rusak kata dia dibangun ulang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan agar tak terjadi lagi sampah keluar dari area TPA.

"Itu kan pembangunan untuk bronjong, drainase, itu sudah kami lakukan, untuk TPA-nya. Termasuk ke depan mungkin dalam APBD perubahan untuk kolam lindi. Karena itu harus diatasi. Karena kan, kolam lindi yang lama sempat bergeser enam meter karena bencana pada 2017 kemarin," jelas Suyanto di Purwokerto, Senin (28/5/2018).

Kolam lindi atau kolam pengelolaan air limbah sementara itu belum beroperasi. Dinas Lingkungan Hidup Banyumas berencana mengalokasikan dana pembangunan kolam lindi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD-P) Banyumas 2018.

Suyanto mengemukakan, saat ini jumlah sampah dari empat kecamatan di Kota Purwokerto itu diperkirakan 40an truk per hari. Namun, pada masa awal operasi TPA Kaliori hari ini, jumlah sampah yang diangkut lebih banyak lagi. Sebab sampah sempat menumpuk hingga nyaris dua bulan.

Sampah-sampah itu harus dibuang ke TPA lain yang jaraknya puluhan kilometer--yakni di TPA Tipar di Kecamatan Ajibarang, yang mestinya menjadi TPA untuk kawasan Banyumas barat. Akibatnya, sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersebar di berbagai lokasi di Purwokerto.

Ia pun mengimbau masyarakat agar mulai menerapkan pengelolaan sampah dengan prinsip 3R, yakni Reduce dengan mengurangi, Reuse dengan menggunakan ulang, dan Recycle melalui daur ulang sampah. Sebab, pengelolaan sampah tak bisa semata dibebankan ke pemerintah. Kata dia, idealnya pengelolaan sampah harus dikerjakan bersama oleh seluruh pihak, termasuk masyarakat.

Baca juga:

Darurat Sampah

Sebelumnya, empat kecamatan di Kota Purwokerto berpotensi mengalami darurat sampah. Penyebabnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Kaliori tak beroperasi sejak Maret 2018, karena ditutup warga. Akibatnya petugas kebersihan pun kesulitan membuang sampah. 

Sekretaris Komisi bidang Kesejahteraan Rakyat, DPRD Banyumas, Yoga Sugama menjelaskan, ada 40 truk yang biasanya beroperasi di empat kecamatan Kota Purwokerto. Namun, hanya tujuh di antaranya yang bisa beroperasi. Sementara sisanya menumpuk di TPS dan perumahan penduduk.

"TPA Sampah itu kan ada dua, di Kaliori sama di daerah Ajibarang. Sekarang ini yang diprotes itu kan yang di Kaliori. Warga menutup TPA Kaliori, karena menganggu, berbau dan sebagainya. Demo besar-besaran," tutur Yoga Sugama di Purwokerto, Minggu (27/5/2018).

"Akibatnya sekarang, mobil-mobil yang mengabil sampah itu tidak bisa mengambil sampah di rumah-rumah. Sampah menumpuk di TPS-TPS dan menumpuk di rumah masing-masing," lanjutnya.

Yoga mengaku khawatir persoalan sampah ini akan merembet ke TPA Tipar di Kecamatan Ajibarang, sebagaimana yang terjadi di Kaliori. Pasalnya, TPA itu harus menampung nyaris seluruh sampah daerah perkotaan yang mestinya dibagi menjadi dua wilayah. TPA Tipar semestinya hanya menampung sampah dari wilayah barat Banyumas. Adapun sampah dari wilayah timur menjadi bagian TPA Kaliori.

Sebab itu, anggota DPRD Banyumas itu pun meminta Pemkab Banyumas mulai memprioritaskan penanganan pengelolaan sampah. Menurut Yoga, sampah tak lagi sebatas berdampak pada lingkungan melainkan juga menimbulkan masalah sosial.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang