Polisi Investigasi 10 Napi Teroris dalam Ricuh Mako Brimob

"Masih di tahanan, karena tahanan lama sudah tidak bisa digunakan. Di Mako ini ada enam blok. (Kenapa tidak dipindahkan ke Nusakambangan?) Ini, bagaimana evaluasi tim investigasi nanti."

Kamis, 10 Mei 2018 14:38 WIB

Napi teroris saat penggeledahan dan pengambilalihan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Kamis (9/5/2018). (Sumber: Humas Mabes Polri)

KBR, Jakarta - Tim investigasi kepolisian memeriksa 10 dari 155 teroris yang sempat melawan polisi dalam penyerbuan pasca-bentrok Kamis (10/5/2018) dini hari. Kesepuluh orang itu menurut Wakapolri Syafruddin hingga kini masih di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

"Masih di tahanan, karena tahanan lama sudah tidak bisa digunakan. Di Mako ini ada enam blok. (Kenapa tidak dipindahkan ke Nusakambangan?) Ini, bagaimana evaluasi tim investigasi nanti," kata Syafrudin di Istana Bogor, Kamis (10/5/2018).

Sementara 145 tahanan lainnya telah dikirim ke Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih di Nusakambangan. Kendati begitu, Syarifuddin tak menjelaskan soal rencana penambahan hukuman bagi para napi teroris tersebut. Mereka sebelumnya terlibat baku tembak dengan polisi hingga menewaskan lima petugas dan melukai empat orang lain.

Ia melanjutkan, 10 napi teroris yang tengah diinvetigasi itu kelak akan dipindahkan juga ke Lapas lain setelah pemeriksaan rampung. Kata dia, tim investigasi masih memetakan identitas napi sekaligus asal jaringan terorisnya. Menurutnya, informasi mengenai hasil investigasi akan diumumkan langsung oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Tapi ia tak bisa memastikan waktu pemeriksaan oleh tim investigasi Polri tersebut. 

Sedangkan terkait tahanan di Mako Brimob yang berstatus terduga dan terdakwa terorisme, Syafruddin tak menjelaskan keberadaan mereka. Meski ia sempat menyebut hampir seluruh ruang tahanan hancur akibat ledakan.

Baca juga:


Merampas Bom dan Senjata Sitaan

Ledakan sempat terdengar saat operasi penanggulangan penyanderaan di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob. Wakapolri Syafruddin menyebut para napi kasus terorisme itu sempat merakit bom selama kerusuhan terjadi. Kata dia, dalam proses sterilisasi bom-bom tersebut diledakkan polisi.

"Mereka selama 40 jam melakukan penyanderaan dan mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan perakitan bom dan sebagainya. Itu tadi yang diledakkan adalah hasil-hasil bom yang berhasil dirakit," kata Syafruddin saat di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5/2018) pagi.

Namun keterangan itu berbeda dengan yang disampaikan Komandan Korps Brimob Polri, Rudy Sufahriadi. Menurut Rudy, bom itu didapat dari barang bukti yang belum sempat di gudang. Termasuk, sejumlah senjata rakitan yang digunakan para tahanan.

"Jadi senjata hasil pemeriksaan napiter belum digudangkan, itu yang direbut kembali untuk melawan polisi. Termasuk bom-bom yang diledakkan tadi pagi," terang Rudy.

"Ledakan itu adalah bridging untuk meledakkan dan menjatuhkan bom. Mereka juga menyampaikan, menyimpan bom," tambahnya lagi.


Senjata api, amunisi dan perlengkapan lain yang dirampas para napi teroris dari polisi begitu saja ditinggalkan setelah tahanan menyerahkan diri. (Sumber: Humas Mabes Polri)

Rudy memastikan tak ada napi teroris yang terluka akibat ledakan bom. Ia mengatakan, proses sterilisasi dilakukan setelah napi teroris berjumlah 155 orang menyerahkan diri.

Pagi tadi, seluruh napi teroris yang sempat memberontak dan menyandera polisi telah menyerahkan diri tanpa syarat. Sejak ricuh Selasa (8/5/2018) sebanyak 9 polisi disandera, lima orang di antaranya meninggal. Dalam kerusuhan puluhan jam ini, seorang narapidana terorisme juga dinyatakan meninggal.


Napi Diproses Hukum

Kepolisian tengah memproses hukum narapidana kasus terorisme yang menyebabkan lima polisi meninggal dan empat orang lainnya luka-luka.

"Ini Indonesia negara hukum, semua akan berujung kepada penegakan hukum. Nanti kita lihat semua prosesnya. Itu semua pemberatan, peringanan ujungnya di Pengadilan," kata Wakapolri Syafruddin.

Dalam kesempatan berbeda, Juru Bicara Polri, Muhammad Iqbal mengatakan, kepolisian tengah mensterilisasi sekaligus melakukan olah Tempat Kejadian perkara (TKP). Langkah ini dilakukan untuk mencari barang bukti dugaan tindak pidana oleh para napi teroris.

"Karena ada beberapa senjata api laras panjang, laras pendek dan otomatis yang perlu penanganan khusus," kata Iqbal.

Menurut Iqbal, proses sterilisasi olah TKP diperkirakan membutuhkan waktu lama. Ia mengatakan, kepolisian belum bisa mengizinkan awak media untuk melihat kondisi Rutan Mako Brimob.

"Hasil koordinasi dengan penyidik akan bisa sampai malam upaya sterilisasi dan olah TKP agar tidak ada sisa-sisa menjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ledakan dan lain-lain."

Baca juga:


Menyerah

Operasi penanggulangan kerusuhan menurut dihentikan Kamis (10/5/2018) pagi tadi. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto memastikan seluruh narapidana teroris yang sempat memberontak itu sudah menyerah.

"Aparat keamanan sebelum mengambil tindakan memberikan ultimatum, jadi bukan negosiasi. Kami memberikan ultimatum, akan melaksanakan serbuan," kata Wiranto di Mako Brimob, Kamis (10/5/18).

"Menyerah atau mengambil resiko dari serbuan aparat keamanan Indonesia," imbuhnya.

Wiranto mengatakan, mulanya 145 napi menyerah tanpa syarat dan bersedia menanggalkan senjata. Namun ada 10 napi lain yang berkeras melawan sehingga polisi bersenjata lengkap melakukan penyerbuan sekitar pukul 07.20 WIB. Hingga akhirnya kesepuluh napi teroris itu berserah tanpa syarat.

"Tadi ada bunyi tembakan bom granat asap, gas air mata dan penyisiran," kata Wiranto.

Dalam kesempatan berbeda Wakapolri Syafruddin mengatakan, operasi pengambilalihan Mako Brimob itu berakhir tanpa korban jiwa. "Penanggulangan dengan pendekatan lunak sudah berhasil baik sampai finish, tidak ada korban jiwa. Semua menyerahkan diri dan dievakuasi," ujar Syafruddin.

Namun ia belum bisa memastikan apakah pemberontakan oleh napi teroris tersebut telah direncanakan atau tindakan spontan. Ia mengatakan, hal ini masih dalam proses investigasi. "Kami nanti akan update lagi," kata dia.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?