Jelang Asian Games 2018, Wapres JK: Aparat Harus Tindak Tegas Pelaku Teror

Ia meminta agar kepolisian tak ragu menindak tegas terduga teroris yang hendak melakukan teror seperti melakukan bom bunuh diri. Hal tersebut perlu dilakukan untuk meminimalisir korban.

Selasa, 15 Mei 2018 15:51 WIB

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberikan pidato arahan pada acara "Global Forum Asian Games 2018, Tahun Olahraga Tahun Politik" di Jakarta, Selasa (15/5). (Foto: ANTARA/ Widodo S)

KBR, Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla memerintahkan aparat keamanan mengantisipasi pelbagai serangan teroris selama gelaran Asian Games 2018. Helatan olahraga terbesar di Asia ini berlangsung mulai 18 Agustus hingga 2 September 2018 mendatang. Kalla mengatakan, aksi teror yang terjadi dua pekan ini harus dijadikan sebagai alarm kewaspadaan.

"Dibutuhkan kesiapan juga tindakan yang tegas dari aparat keamanan, baik polisi maupun TNI. Tapi dibutuhkan juga informasi apapun dari masyarakat yang bisa diperoleh," kata JK dalam Global Forum Asiam Games 2018 di Kawasan Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Ia meminta agar kepolisian tak ragu menindak tegas terduga teroris yang hendak melakukan teror seperti melakukan bom bunuh diri. Hal tersebut perlu dilakukan untuk meminimalisir korban.

Selain itu JK juga meminta masyarakat berperan aktif mencegah aksi teror. Salah satunya, melapor ke polisi jika melihat pergerakan yang mencurigakan dari orang-orang di sekitar. Sebab menurutnya, perlu kerja sama dari seluruh pihak untuk mengantisipasi kemungkinan aksi teror.

"DPR, Pemerintah, Polisi dan TNI sudah membuat upaya sedemikian rupa. Tapi penduduk kita 260 juta tidak semua bisa diawasi, tapi masyakarat lah yang berperan."

Baca juga:

JK pun melanjutkan, aksi teror yang belakangan terjadi akan berdampak pada penyelenggaraan Asian Games mendatang. Negara-negara peserta Asian Games kata dia, bakal mempertimbangkan keamanan kontingennya di Indonesia.

"Karena orang asing itu sama seperti kita. Misal kalau terjadi sesuatu di Pakistan langsung takut masuk Pakistan. Padahal kejadiannya mungkin terjadi di ujung utara Pakistan," kata dia.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?