Asian Games, Antisipasi Teror BNPT Gandeng Eks-Napi

"Kita tidak bisa terlena, karena semua jaringan, semua pergerakan diketahui oleh aparat intelijen dan keamanan,"

Senin, 28 Mei 2018 14:57 WIB

Warga melintas di depan mural bergambar maskot Asian Games 2018 di Pucang Sawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Senin (21/5). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng bekas narapidana terorisme, untuk ikut membantu pemerintah mengantisipasi ancaman teror jelang acara Asian Games, yang dibuka 18 Agustus 2018, mendatang. Juru bicara BNPT Irfan Idris mengatakan, para eks narapidana terorisme tersebut dianggap bisa membantu kedeputian bidang penindakan BNPT untuk memahami celah penjagaan yang sering dimanfaatkan pelaku teror.

Kata Irfan, BNPT sudah meminta polisi agar mengutamaan penjagaan di titik-titik penting seperti istana kepresidenan, lokasi Asian Games, dan kantor-kantor polisi.

"Kan kita bekerja sama dengan pihak intelijen. Kalau pihak kami, deradikalisasi khususnya, melakukan koordinasi dan komunikasi secara terus-menerus dengan mereka-mereka yang sudah berstatus mantan teroris, untuk ikut mengamankan suasana. Kita tidak bisa terlena, karena semua jaringan, semua pergerakan diketahui oleh aparat intelijen dan keamanan," kata Irfan kepada KBR, Senin (28/05/2018).

Irfan meyakini, tak ada ancaman teror pada Asian Games 2018. Ia mengatakan, BNPT sudah berkoordinasi dengan Badan Intelijen Negara, Polri, dan Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc), untuk mengantisipasi teror pada Asian Games, sejak tahun lalu. Irfan berkata, antisipasi penyebaran paham dan serangan teror untuk dilakukan dengan melibatkan 36 kementerian/lembaga.

Irfan berujar, kedeputian bidang penindakan BNPT juga terus berkoordinasi dengan BIN dan Densus 88 Antiteror untuk memantau aktivitas sel-sel tidur teroris, yang diwaspadai bangkit. Alasannya, kata Irfan, BNPT tak ingin kecolongan mengantisipasi pelaku teror yang manfaatkan momen Asian Games untuk melakukan serangan. Selain Jakarta, Irfan berkata, pengawasan ketat juga akan berlaku di Palembang, lantaran Asian Games diadakan di kedua kota tersebut.

Sementara itu juru Bicara Mabes Polri, Syahar Diantono mengatakan  sudah mengawasi beberapa jaringan teroris yang mungkin mengancam kegiatan tersebut. Jika menilik pada aksi teror beberapa waktu lalu, Syahar mengatakan JAD masih menjadi fokus pengawasan, namun Densus saat ini sudah mulai mengawasi sel jaringan lain diluar JAD.

“Ya kalau terkait dengan insiden kemarinkan hasil analisa kelompoknya JAD. Cuma polri tidak hanya fokus ke sana, apapun yang terkait yang lebih tahu nanti dari Densus khususnya ya pasti. Semua yang terkait ancaman itu pasti akan kita deteksi, bukan hanya itu saja yang perlu kita sampaikan juga kerawanan-kerawanan konfensional,” ujar Syahar, kepada KBR, Senin (28/05/2018).

Syahar mengatakan polri bekerjasama dengan TNI. Menurut dia dengan jumlah personil yang mencapai ratusan ribu, dan  penjagaan 3 lapis, akan membuat para teroris sulit untuk menembus dan merusak kemeriahan acara tersebut.

“Polri sudah melaksanakan kegiatan operasi khusus pengamanan, yang namanya adalah among raga 2018. Yang dikedepankan tentunya empat polda untuk kegiatan Asian Games, Polda Metro, Polda Jabar, Polda Sumatera selatan dan Polda Banten. Total personil yang melakukan pengamanan itu seratus ribuan dari empat polda tadi, ditambah dengan koordinasi TNI,” ujar Syahar.

Selain penjagaan 3 lapis, di setiap venue penjagaan dilakukan selama 24 jam. Penjagaan juga akan berlanjut pada kegiatan di luar Asian Games bagi para atlet yang berpartisipasi. Kepolisian sudah bekerjasama dengan INASGOC dan organisasi konsil lain untuk tetap membuat penjagaan pada para atlet, yang setelah bertanding ingin melakukan kunjungan wisata di Indonesia.

“Pengaman ini kan kita bagi 3 ring, ring satu itu tempat pelaksanaan, ring 2 sekitar venue dan 3 itu area terluar seperti tempat penjualan pernak-pernik. Penjagaan juga mulai ketat saat mulai pembukaan kendaraan yang boleh masuk hanya RI 1 dan RI 2, untuk pejabat lain akan diangkut dengan bus dari hotel Vermon. Pengamanan juga berlanjut untuk para atlet, sehingga penjagaan itu dari awal kegiatan sampai mereka kembali ke negaranya masing-masing.” Ujar Syahar.

Kata dia, ada ancaman lain selain terorisme yakni kejahatan perkotaan seperti copet, jambret ataupun perkelahian antarpenonton. Hal tersebut juga menjadi atensi kepolisian agar terciptanya Asian Games yang damai.

Asian Games ke-18 akan mulai digelar pada 18 Agustus mendatang hingga 2 September. Perhelatan olahraga kawasan Asia itu akan diikuti 45 negara. Sebanyak 42 cabang akan digelar di Jakarta dan Palembang.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang