Amdal Semen Indonesia, Menteri Siti: Ganjar Ajukan Diskresi

"Untuk memproses dulu perizinan dan lain-lain. (Disetujui Presiden?) Nggak tahu aku, kan Presiden yang tahu,"

Kamis, 16 Feb 2017 21:21 WIB

Pabrik Semen Indonesia di Rembang, Jateng. (Foto: KBR/Musyafa)


KBR, Jakarta- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya menyatakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajukan diskresi kepada Presiden Joko Widodo untuk memproses analisis dampak lingkungan (Amdal) PT Semen Indonesia.  Ini lantaran proses Amdal PT Semen Indonesia tetap berjalan kendati Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) belum rampung.

Kata  Siti, pengurusan Amdal memang menjadi wewenang pemerintah provinsi.

"Ada suratnya (permohonan diskresi) pak Ganjarnya, coba tanya pak Teten (KSP), ada suratnya. (Konsekuensinya apa?) Nggak ada sih pada dasarnya, kan memang Amdal kewenangannya dia juga. (Diskresi untuk apa?) Untuk memproses dulu perizinan dan lain-lain. (Disetujui Presiden?) Nggak tahu aku, kan Presiden yang tahu," kata Siti Nurbaya di kompleks Istana, Kamis (16/2/2017).

Siti menuturkan, dirinya meminta kepada Ganjar untuk tetap merujuk pada KLHS dalam penilaian Amdal.

"Jadi Amdalnya itu harus di-back up oleh KLHS, memang kan KLHS kan kewenangannya provinsi juga, dia harus lihat bagaimana strategic plan-nya dia," tuturnya.

Siti memastikan dokumen Amdal PT Semen Indonesia masih terbuka untuk terus direvisi. Amdal tersebut bisa direvisi apabila bertentangan dengan KLHS.

"Kan Amdal itu kan berkembang, bisa ada perubahan karena teknologi, perubahan karena situasi segala macam. Amdal kan dokumen perencanaan untuk mengatasi dampak lingkungan, jadi pada dasarnya sih dia dokumen perencanaan yang bisa dinamis juga," terangnya.

Menurut Siti, KLHS belum juga selesai lantaran tim penyusun masih membutuhkan kajian terkait status cekungan air tanah (CAT) Watuputih. Tim masih menunggu kajian dari Kementerian ESDM. Siti menargetkan KLHS segera rampung, lebih cepat dari target semula (April 2017).

"KLHSnya itu juga belum bisa lengkap, kenapa? karena studi bawah tanah, studi jaringan air di bawah tanahnya itu belum lengkap. ESDM lagi turun, nunggu datanya ESDM," ujarnya.

CAT Watuputih

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah mengirimkan tim untuk mengkaji Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Rembang, Jawa Tengah. Kata dia, tim tersebut diketuai oleh Surono yang pernah menjabat Kepala Badan Geologi.

"(Tim sudah dikirim?) Sampun. (Ketuanya?) Surono. (Berapa orang?) Waduh nggak hapal, di bawah 10 (orang). (Rampungnya?) Segera," kata Ignasius Jonan di kompleks Istana, Kamis (16/2/2017).

Ia mengakui, lembaga tersebut juga sebelumnya pernah melakukan kajian yang sama. Dari hasil kajian tersebut, ESDM akan memberikan rekomendasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait status CAT Watuputih.

"(Badan Geologi sudah pernah mengkaji?) Sudah, sekarang mau dikaji lagi. Kan ini gini,  kalau memang mengganggu lingkungan hidup ya nanti kita kasih rekomendasi baiknya bagaimana. (Rekomendasinya harus dipatuhi?) Ya harus, (Kalau nggak dijalankan berarti melanggar?) Nanti di LHK kita rekomendasinya," lanjutnya

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Mendes Akui Sudah Tahu Soal WTP Sebelum Diumumkan

  • Polisi Dalami Keterlibatan Oknum Anggotanya yang Diduga Terima Suap dari Uber
  • Fraksi PDIP Ganti Posisi Masinton di Pansus KPK
  • Susi bagikan 690 paket alat tangkap ikan ramah lingkungan