Ki Hujan yang berbunga di Sarongge (Foto: Ika Manan)

Ki Hujan yang berbunga di Sarongge (Foto: Ika Manan)

Ki hujan mulai berbunga. Malai-malainya tampak rimbun menguning. Kelak, ia akan kembali menggugurkan bunga-bunga mungilnya. Menyapa musim hujan yang barangkali terlambat. Atau tertambat, pada kemarau.

“Mungkin September nanti [bunga-bunganya] baru akan gugur,” kata Durit, pemandu kami siang itu di hutan Sarongge, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Cianjur, Jawa Barat. Seumpama dikenai aba-aba, beberapa teman seperjalanan serempak menatap ke atas; ke malai-malai ki hujan.

Lalu mereka saling cakap. Sebentar kemudian bertanya pada Durit. Lantas bergumam takjub.

Mengulur jarak di belakang mereka, sejenak saya bergeming. Terkenang kala kami—saya dan Reynold—terakhir menengok ki hujan. Pohon yang sama. Ia adalah ki hujan pertama sesudah Persimpangan Puspa. Kala itu ia pun tengah berbunga. Dari bawah, malai-malainya tampak bergerombol. Bunganya belum juga rontok.

Ketika bunga-bunga ki hujan berguguran, suaranya “serupa hujan deras,” kata Wawan Sudrajat seperti saya kenangkan, sekarang. Kang Wawan, demikian ia dipanggil, merupakan ketua Rukun Tetangga Sarongge Girang. Kampungnya menandai permukiman terakhir di Sarongge. Letaknya langsung bersebelahan dengan batas hutan.

Kang Wawan biasa naik-turun punggungan bukit demi memandu pengadopsi pohon. Ia pula yang menemani pengunjung, selama mereka menginap di lahan perkemahan Hutan Sahabat Green. Termasuk kami berdua.

Saat menulis ini, saya berupaya  mengingat-ingat serta mencari lagi foto-foto perjalanan kami bertiga. Ternyata saat itu Maret 2013. Lebih dari dua tahun lalu. Masa yang, rasanya, begitu lampau. Terlebih jika melihat Sarongge yang sekarang.

Di Sarongge, ihwal dan peristiwa bersilih; bertukar-tukar; dan berkelanjutan.

Anak-anak pohon adopsi telah bertumbuh. Dahan pohon rasamala (Altingia exelsa) berangsur-angsur menguat. Ki hujan (Engelhardia spicata), pohon endemis Gede-Pangrango yang sulit berbunga, tahun ini menjuntaikan malai-malainya. Dan kini, petani yang dulu bersawah di batas hutan telah mendapat sumber nafkah pengganti.

Peralihan yang, semoga, dapat menenteramkan.

---

“Nama udara saya Karyo,” kata lelaki di depan kami seraya melanjutkan, “Iya, udara. ‘Kan saya penyiar.” Kami yang tengah belajar bertanam sayur organik pun tertawa.

Nama lahirnya Dadan Bakir. Ia merupakan penyiar di Radio Edelweiss, siaran suara komunitas petani Sarongge. Siang itu Kang Karyo, demikian kami memanggilnya, menjadi pendamping sesi bertanam organik. Kelas ini merupakan bagian dari Festival Sarongge pada 22-23 Agustus silam.

Bagi Kang Karyo, memelihara tanaman sayur organik seumpama “merawat bayi.” Lalu disentuhnya selembar daun brokoli. “Ini, lihat. Habis digigit ulat,” sahut Kang Karyo melanjutkan, “Petani organik harus memperhatikan satu demi satu bagian tanamannya.” Ia mestilah orang yang sabar dan telaten. “Kalau tidak punya dua itu,” katanya diawali tawa sedikit tertahan, “jangan jadi petani.”

Lima tahun lalu, Kang Karyo masih berkebun di dalam kawasan TNGP.  Di sana ia menanam pelbagai sayur nan subur. Ketika program adopsi pohon bermula di Sarongge, pelan-pelan ia turun gunung. Kang Karyo meninggalkan kebun. 

Selepas berkebun di punggungan bukit, Kang Karyo lalu menyewa lahan di kampung. Ia beralih ke sistem tanam organik.

Sebetulnya nama Kang Karyo sudah lama saya dengar. Tepatnya sejak 2012, ketika saya pertama kali berkenalan dengan Sarongge. Namun, saya baru sungguh-sungguh menjabat tangannya dalam festival silam.

Kedua adik saya--yang juga ikut ke Sarongge pada akhir pekan lalu--begitu senang bertemu Kang Karyo. Agaknya mereka turut teringat percakapan kami, subuh itu dalam perjalanan menuju Sarongge. Tentang Kang Karyo yang tertidur saat siaran.

Alkisah, seperti diceritakan Tosca Santoso pada 2012 silam, Kang Karyo sedang menyiarkan acara wayang di Radio Edelweiss. Cerita wayang itu disiarkan lewat format compact disk atau CD. Ceritanya sendiri terbagi atas dua CD.

“Esok paginya, Kang Karyo berkebun seperti biasa,” kisah Tosca, pendiri Green Radio yang juga penggagas program adopsi pohon di Sarongge. Tiba-tiba seorang petani bertanya setengah berteriak, “Hei Karyo! Kok tadi malam cerita wayangnya tidak diteruskan?”

Ternyata Kang Karyo tertidur hingga CD pertama habis; pulas sampai pagi. Cerita wayang tak jadi berlanjut. Pendengar pun kecewa.

---

Terkadang, kita dapat menangkap seberapa besar kemauan, kesulitan dan daya juang seseorang dari tatapan, juga cara mereka berkisah. Di Sarongge sesudah mendengar petani berkisah, kerap saya diam teringat kakek dan nenek. Sepasang petani di Magelang, Jawa Tengah.

Dulu, lahan tanam kakek dan nenek tak seberapa luas. Mereka juga tak mengenal sistem tanam organik. Semprotan pestisida barangkali turut memapar tubuh keduanya. Tapi mereka nyaris tak pernah absen ke sawah. Karena sawah tak sekadar pencukup kebutuhan.

Bagi petani seperti kakek dan nenek saya, pergi ke sawah adalah kebutuhan jiwa.  Lalu bagaimana jika lahan begitu sempit, atau hal-hal akhirnya diserahkan pada teknologi?

Genta, penggerak pemuda petani organik Sarongge, sempat berkeluh soal lahan. “Kami serius bertanam organik, Teh. Tapi lahannya kurang sekali,” katanya saat membersihkan bibit-bibit sayur yang hendak saya bawa pulang. Ia pun tak ingin menambah beban urbanisasi. Seperti penegasannya siang itu di tepi lahan: “Saya ingin tetap di sini saja.”

Genta dan teman-temannya memiliki kemauan yang kuat. Niat mereka sungguh baik. Namun, keteguhan hati mereka mesti terganjal masalah lahan. Saya membayangkan jika di belakang hari, kebutuhan akan sayur organik semakin meningkat. Lalu, orang-orang dan barisan perusahaan mulai memesan ragam sayur yang kian banyak ke petani Sarongge. Di mana mereka akan menanam?

Sementara, Sarongge adalah tanah kelahiran mereka. Tempat yang, barangkali, ingin dikisahkan ke anak dan cucu sebagai kebun terakhir; sawah pamungkas.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!