Buku Menulis untuk Telinga, Mervin Block, penerbit KBR68H dan MDLF, penyunting Bambang Bujono, jurnalisme penyiaran

9. Jangan menggunakan kata-kata susah yang kira-kira tak cepat dipahami oleh pendengar.


Media radio sejauh ini tak berdiri di depan dalam penciptaan istilah atau pemopuleran kata yang jarang digunakan. Yang berperan dalam hal ini media cetak (surat kabar, majalah, buku). Bahkan radio pun disarankan tak memakai kata atau istilah baru sebelum kata atau istilah itu luas dipakai. Kata-kata seperti pindai, kelindan, barik, lindap, lambuk meski kadang muncul di majalah, rasanya belum populer benar.


Juga, eufemisme atau penghalusan kata yang belum populer benar lebih baik tak digunakan untuk berita radio. Meninggal dunia untuk mati sudah bukan persoalan. Tapi menghilangkan nyawa untuk membunuh agak jauh kaitannya: yang hilang mungkin ditemukan kembali, namun yang tewas tak akan kembali selamanya.


Ada pertimbangan lain; penghalusan dapat berakibat mengaburkan makna kata itu, dan ini berbahaya: lama kelamaan kita bisa lupa arti sebenarnya. “Terjadi salah pembukuan keuangan di departemen itu”. Lebih baik digunakan saja kata korupsi. Juga beberapa singkatan, meski dijamin dipahami oleh pendengar, mengaburkan arti perbuatan yang terkandung di dalamnya. KKN misalnya, tak langsung menunjuk pada korupsi, kolusi, atau nepotisme; juga HAM. Tidakkah lebih baik singkatan tersebut tak digunakan, dan kata-kata selengkapnya yang

dipakai? Operasi militer di Aceh melanggar HAM. Bandingkan dengan Operasi militer di Aceh melanggar hak asasi manusiaKalimat pertama mengharuskan pendengar mengingat kepanjangan HAM, dan kemudian baru merasakan makna kalimat itu. Sedangkan kalimat kedua langsung membuat pendengar memahami maknanya.


10. Jangan menggunakan kata-kata muluk.


Ada penulis yang sok keren, memilih kata-kata yang tidak biasa, yang tidak umum. Satu berita tentang pengumpulan dana untuk Aceh terdengar seperti ini: 


Konferensi Tingkat Tinggi Darurat Tsunami di Jakarta berjalan bak kontes kemurahan hati. 


Mungkin penulis berita ini berpikir kata “lomba” terlalu umum, harus diganti dengan kata lain yang “berkelas”. Bukan masalah untuk mengudarakan kata ini, meskipun Anda memperlambat pemahaman pendengar. Di media kita “kontes” dari bahasa Inggris ini lazim dipakai dalam “kontes kecantikan” atau “kontes ternak”. Anehnya, istilah kontestan kita pakai untuk menyebut para calon angggota legislatif dalam pemilihan umum. Contoh lain:


– Setelah enam hari tertutup rapat akibat isolasi tsunami, Meulaboh ibukota Aceh Barat akhirnya mulai menampakkan tanda kehidupan.

(Bahkan pemakaian kata isolasi salah; hilangkan saja.)


Novelis Mark Twain pernah mengatakan, “Saya tidak pernah menggunakan kata metropolitan dengan imbalan tujuh sen bila saya bisa mendapatkan jumlah yang sama dengan menulis kata kota.”


11. Awas penggunaan kata secara salah.


Pastikan Anda tahu arti kata sebelum menggunakannya. Bila Anda ragu arti sebuah kata, periksalah dalam kamus. Kadangkala kita suka bingung menggunakan picu dan pacu.


– Gempa bumi dan gelombang tsunami hebat yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara memicu banyak orang berpikir tentang pentingnya

teknologi untuk memantau dua bencana alam itu.


Yang dimaksudkan dengan memicu di kalimat itu tentulah memacu (mempercepat). Pengertian kalimat tersebut positif. Sedangkan memicu (menggerakkan sesuatu yang berakibat membahayakan) berkonotasi negatif, misalnya “Pabrik tahu yang mencemari lingkungan itu mengimbau agar warga setempat tak membeli tahu dari tempat lain; imbauan itu memicu kemarahan penduduk.


Lantas kata tegar, kita mesti hati-hati memakainya. Di media massa umumnya tegar diartikan tabah: “Bapak itu begitu tegar kehilangan istri dan anak dalam bencana tsunami.” Seharusnya digunakan tabah saja. Sebab, tegar berarti tidak lentur atau kaku, atau teguh dan tak mudah berubah dalam pendirian. Kira-kira tegar cocok untuk kata Inggris rigid. Lantas pelecehan seksual. Sering terdengar: “Seorang karyawan dipecat gara-gara melakukan pelecehan seksual terhadap resepsionis baru itu.” Yang dilecehkan tentulah “resepsionis baru itu”, bukan

“seksual”.


12. Berhentilah menggunakan kata-kata atau frasa asing.


Pendengar radio begitu beragam tingkat ekonomi-sosialnya, juga pendidikannya, dan dengan demikian beragam pula tingkat pengetahuannya. Mereka mestinya juga menonton TV, dan kita tahu bahwa film-film asing di TV kita kebanyakan sudah

disulih suara, dan beberapa film asing yang ditayangkan masih dengan bahasa aslinya dilengkapi terjemahan Indonesianya. Tak ada lagi film asing yang dibiarkan dengan bahasa asli dan tanpa terjemahan. Pengenalan kata asing kepada masyarakat, apalagi dengan artinya, makin jarang. Karena itu stasiun radio sudah harus mengambil kebijakan berbau xenophobia dalam hal kata dan istilah. Ini memudahkan pendengar memahami sajian radio. Tentu tak ada salahnya sebuah stasiun radio membuka program pelajaran bahasa asing, dan menyiarkan berita dari

stasiun radio luar negeri dalam bahasa Inggris, misalnya. Tapi ini tak berkaitan langsung dengan soal menggunakan kata asing dalam tulisan berita sendiri.


Kalau terpaksa memakai istilah asing, dalam berita hukum misalnya, sebaiknya disertai penjelasam. Tak semua pendengar paham bahwa terdakwa diadili in absentia. Juga kata asing yang lagi modis pun sebaiknya disertai bahasa Indonesianya atau penjelasannya. Di satu edisi sebuah surat kabar digunakan istilah-istilah asing dengan atau tanpa terjemahan atau penjelasan: good governance, illegal logging, sales promotion, cover girl, account executive, ekstradisi (dari extradition), feed back, human interest, maestro, law enforcement, show room, intellectual property right, stakeholder, informal, browsing, local election, tensi (dari tension), aspirasi (dari aspiration). Pembaca media cetak puya kesempatan menengok kamus, peluang yang tak dimiliki pendengar radio.


Dalam berita radio jauh lebih bermanfaat kata-kata sederhana yang dipakai dalam percakapan sehari-hari daripada kata-kata asing, apalagi bila kata-kata tersebut tak tepat pemakaiannya.


13. Jangan memberi tempat kata-kata klise.


Pakar bahasa bernama Henry W. Fowler mengutuk katakata klise, tapi sekaligus mencemaskan imbauan untuk tak menggunakan kata-kata klise. Sebab, katanya, anjuran untuk tak menggunakan kata klise sama sekali akan membuat para penulis terlambat menyerahkan naskah, dan para jurnalis pun mengulur batas waktu penyelesaian tulisan.


Tampaknya kita tak mungkin terhindar dari kata klise. Padahal, kata pujangga Inggris termasyhur, William Shakespeare, menggunakan kata-kata klise sama seperti memakai barang usang. Ada pula yang mengibaratkan kata-kata klise sebagai polutan: menyebabkan polusi dalam tulisan.


Yang bisa dilakukan, sesedikit mungkin menggunakan kata klise. Dengarlah nasihat George Orwell, penulis novel 1984 yang kesohor itu: “Jangan pernah menggunakan metafora, kiasan, atau deskripsi yang sering Anda lihat pada tulisan-tulisan.”


14. Jangan mengganti kata yang mudah dipahami dengan kata lain yang dirasa lebih ekspresif namun ternyata berbeda maknanya.


Terkecuali, kata yang lebih ekspresif itulah yang sesuai dengan kenyataannya.


- Direktur itu mengatakan, keuntungan bank yang dipimpinnya lebih daripada yang ditargetkan.

- Direktur itu mengklaim, keuntungan bank yang dipimpinnya lebih daripada yang ditargetkan.

- Jaksa bertanya kepada terdakwa, siapa yang memutuskan harga pembelian kotak pemilu itu.

- Jaksa menyudutkan terdakwa, siapa yang memutuskan harga pembelian kotak pemilu itu.


Dalam kalimat pertama, mengatakan bersifat netral, sang direktur sekadar memberikan keterangan. Dalam kalimat kedua, mengklaim berkonotasi mendesakkan kebenaran menurut sang direktur. Mungkin klaim itu dinyatakan karena ada yang menyangsikan bahwa bank tersebut untung.


Pada kalimat keempat, menyudutkan menggantikan bertanya dengan tidak tepat. Kata menyudutkan memiliki konotasi membuat tak berdaya, seperti contoh ini: “Jaksa menyudutkan terdakwa dengan mengajukan barang bukti yang sulit diingkari bahwa itu milik terdakwa.” Kalimat keempat terasa janggal, karena yang dilakukan jaksa sama sekali tidak menyudutkan terdakwa. Contoh lain: “Tutup mulutmu!” teriaknya, dan “Tutup mulutmu!” katanya. Kalimat kedua terasa janggal karena katanya” tak mengandung makna perintah.


Kadang seorang penulis takut menggunakan kata yang sama berulang-ulang dalam satu tulisan. Mungkin mereka takut dinilai perbendaharaan katanya kerontang. Mengganti satu kata dengan kata yang lain sah-sah saja, bahkan dianjurkan, sejauh

penulis itu mampu menemukan kata pengganti yang cocok dan tetap mudah dimengerti pendengar.


Penulis lain mungkin merasa tak kreatif kalau hanya menggunakan kata-kata biasa yang digunakan sehari-hari. Lalu ia mencoba mencari kata-kata yang dianggapnya mencerminkan daya kreativitasnya, menunjukkan “intelektualitas”nya. Digantilah harapan dengan ekspektasi, rasa aib menjadi stigmajanji menjadi komitmen, pameran menjadi ekshibisi, percepatan menjadi akselerasi, suhu menjadi temperatur, garis tengah menjadi diameter dan lain sebagainya. Sejauh tak mengubah makna, soal mengganti kata ini silakan saja, dengan catatan: kata tersebut juga mudah dipahami pendengar.


15. Hindari provokasi.


Para provokator mengubah pertengkaran kecil di antara dua pejabat menjadi bentrokan atau saling menyerang. Bila pertengkaran kecil ini berkepanjangan, para provokator meningkatkannya menjadi perang. Suatu perubahan kecil dalam undang-undang misalnya, agar menarik, dilaporkan bahwa telah terjadi revolusi. Seorang menteri yang tidak hadir dalam sidang kabinet, dilaporkan bahwa telah terjadi kemungkinan

pembangkangan. Temuan lembaga antikorupsi senilai beberapa  miliar, oleh provokator diubah menjadi beberapa ratus miliar.


Penulis bukan provokator. Penulis yang mengambil peran provokator adalah penulis yang gagal menemukan sesuatu yang penting atau menarik dalam bahan berita. Ia merasa perlu membesar-besarkan peristiwanya atau menggelembungkan datanya. Mungkin cara ini berhasil menarik perhatian pendengar. Namun pendengar akan kecewa setelah berita lengkap disampaikan, dan ternyata tak ada peristiwa

atau data seseru yang disampaikan di awal berita.


Jurnalis yang tak mampu menggambarkan suatu keadaan — bisa karena bahan kurang, bisa juga karena kemampuan si wartawan tak sampai, bisa keduanya merasa terbantu oleh kata sifat. Maka untuk menggambarkan suasana sebuah gedung yang menjadi sengketa dan lama tak terurus dikatakan: Gedung itu terlihat misterius. Untuk menggambarkan suka-citanya satu partai yang memenangkan pemilu, wartawan yang hanya memiliki sedikit fakta dan terlalu banyak fantasi menulis: Kantor pusat Partai Anu malam itu sungguh meriah, berbagai

makanan dan minuman diedarkan, banyaknya hadirin membuat ruangan penuh-sesak. Bagaimana pendengar bisa menangkap

kemeriahan itu? Jangan-jangan meriah hanya karena pengeras suara demikian keras; makanan hanya dua macam, minuman hanya kopi dan teh. Dan ruangan memang penuh sesak tapi itulah ruangan berukuran 5X10 meter dengan hadirin mungkin kurang dari 100 orang.


Terdengar berita dari sebuah stasiun radio: “Drama penyanderaan dua wartawan TV berakhir sudah.” Penulis berita ini tahu bahwa berakhirnya suatu peristiwa menegangkan adalah antiklimaks, karena itu tidak menarik. Padahal tak ada lagi waktu untuk berpikir. Maka diambillah kata drama dengan harapan agar berita ini terdengar penting. Tapi bagaimana itu drama pembajakan? Andaipun ini berita lanjutan, tetap perlu diberikan gambaran drama penyanderaan itu. Bila tidak, pendengar hanya bisa bertanya-tanya: “Di mana dramanya?” Jika

saja para penulis ini mempunyai sedikit lebih banyak fakta, ia tak perlu menyembunyikan kekurangannya di balik kata misterius,

sungguh meriah, penuh sesak, drama, dan sebagainya.


Yang kita inginkan sederhana saja: sebuah laporan jurnalistik yang jujur, karena itu bisa dipercaya; jernih, karena itu mudah dan cepat dimengerti; cerdas, karena itu memberikan analisis dengan argumen yang masuk akal dan kuat.


Selanjutnya Tiga Puluh yang Dianjurkan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!