Buku Menulis untuk Telinga, Mervin Block, penerbit KBR68H dan MDLF, penyunting Bambang Bujono, jurnalisme penyiaran

II. Lima Belas Kesalahan Ringan


Selain “19 kesalahan besar” buku Writing Broadcast News Shorter, Sharper, Stronger pun mendaftar 15 kesalahan ringan. Biar bukan kesalahan besar, kata buku itu, tetap saja kesalahan namanya. Mungkin di antara ke-15 kesalahan ringan ini antara yang satu dan yang lain mirip; yang berbeda pendekatannya.


1. Jangan memulai berita dengan kata-kata yang dikarang-karang atau dibuat-buat.


Itulah kata-kata yang tak langsung berkaitan dengan berita yang hendak disampaikan. Mungkin penulisnya berniat menarik perhatian, hasilnya kemubaziran. Di antaranya, “Pada suatu ketika …”, “Pada akhirnya itu harus terjadi.”, “Secara resmi Presiden membuka pameran ….”, “Percaya atau tidak…”, “Hari ini pasar modal berjalan seperti biasa …”, “Setelah agak lama tak terdengar …”, “Inilah berita hari ini.” Kata-kata yang dicetak miring itu tak berfungsi, mengganggu perhatian.


2. Jangan pula mengakhiri cerita dengan kata-kata kosong tanpa makna.


Yang paling sering terdengar: “Selanjutnya, mampukah polisi mengungkapkan siapa pelakunya?” Atau, “Tunggu saja perkembangan berikutnya”, dan “Jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah.”


Contoh lain: “Waktulah yang akan berbicara”, “Kini bola di tangan tim pemberantasan korupsi…”, “Peristiwa seutuhnya belum dapat dikatakan …” , “Tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya pembunuh itu …” “Belum ada hasil akhir yang bisa dilaporkan …”


3. Jangan menggunakan kata-kata seperti yang lazim digunakan para sekretaris dalam surat-menyurat.


Para sekretaris yang baik biasanya sudah menyimpan sejumlah kata dan rangkaian kata tertentu yang siap pakai.Misalnya, “Menjawab surat Anda” atau “Salam dan hormat kami.” Para notaris, pengacara, jaksa, hakim juga menyimpan kalimat-kalimat yang diperlukan dalam kontrak, dalam tuntutan, dalam pembelaan kalimat-kalimat yang dipakai secara otomatis dengan sedikit usaha. Dalam berita radio, kata atau kalimat simpanan para sekretaris dan lain-lain itu memang jarang atau tak pernah dipakai. Namun, yang senada dengan itu sering terdengar. Misalnya, “Menurut konferensi pers yang diadakan oleh …”, “Dalam satu pernyataan yang sudah disiapkan …”, Dalam satu kudeta tidak berdarah sebelum fajar, ...” “Begitulah sengketa itu diakhiri.”, “Dalam kunjungan kenegaraan tersebut Presiden …” Itu semua kalimat yang tinggal ketik dan bisa dipakai untuk membuka berita yang mana saja. “Kunjungan kenegaraan” itu bisa dipakai ketika presiden berkunjung ke negara mana pun. “Kudeta tidak berdarah” bisa digunakan untuk kudeta di mana saja. “Menurut konferensi pers” bisa ditulis untuk konferensi pers kapan saja, tentang apa saja. Itulah kalmat-kalimat tanpa makna, tanpa daya pikat.


4. Jangan boros kata. Anda hanya membuang-buang waktu mengetik, dan hasilnya tulisan terasa kurang bertenaga.


Pemborosan kata sering terjadi dalam penggunaan kata sambung (dan, maka, tapi, pula, demikian, apabila, ketika, sementara,

karena, sehingga, walaupun, jikalau, adapun dan lain sebagainya). Baca sekali lagi kalimat Anda, hilangkan semua kata sambung (seringkali fungsi kata sambung cukup diwakili tanda baca koma); jika makna kalimat tak berubah, Anda memang boros dengan kata-kata itu. Selain kata sambung, juga kata depan seringkali tak diperlukan, dan sejumlah kata yang lain.


- Ratusan orang tewas tertimbun sampah, dan puluhan lainnya dinyatakan hilang.

- Sehingga pemerintah pekan depan berencana mencanangkan gerakan nasional pemberantasan sarang nyamuk.

- Persoalannya, tak banyak yang ingat untuk membikin pagar rapat agar bantuan tak diselewengkan.

- Tapi pemerintah juga berkejaran dengan waktu untuk memikirkan bagaimana nasib mereka yang kini menganggur.

- Di situs itu Burks hanya menyebut bahwa si agen mengaku senang dengan pekerjaannya, kendati harus menjalani hidup secara rahasia.

- Jika pemerintah baru menyusun rencana tahap kedua, maka lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pembangunan, UNDP,

[sudah] selangkah lebih maju.

- Jika anggaran pilkada benar-benar ditetapkan dan disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Maret 2005, maka pemilihan kepala daerah bisa dilangsungkan tepat waktu.

- Gus Dur mutlak menolak kepemimpinan partai hasil muktamar luar biasa itu. (Catatan: menolak dengan sendirinya mutlak. Bila tak dimaksudkan sebagai mutlak, perlu ada keterangan lain di belakang menolak; misalnya, Ia menolak hasil muktamar, tapi mendukung terpilihnya ketua umum.)

- Secara resmi Gubernur Jawa Timur meresmikan jembatan Suromadu.

- Total ke-13 korban kecelakaan itu dibawa ke tiga rumah sakit berbeda.

- Fakta membuktikan, polusi di Jakarta terburuk di Asia Tenggara.

- Selagi ia mudik, sementara itu rumahnya dibobol pencuri.

- Adapun Partai Sosialis tak lagi terdengar kabarnya.


Akhirnya, kata-kata tambahan ini (tercetak tebal) tidak menambah apa-apa kecuali menjadikan kalimat lebih tambun, termasuk “akhirnya” di awal kalimat ini.


5. Jangan menggunakan kata-kata non-radio. Kata non-radio kata yang susah dipahami dengan cepat oleh sebagian besar pendengar.


Mendeteksi kata non-radio mudah saja; berangkatlah dari diri sendiri. Ketika Anda menulis dan harus membuka kamus untuk satu kata yang hendak Anda pakai, segeralah buang kata itu bila kata tersebut belum jamak—itulah kata non-radio, yang seorang jurnalis radio pun tak tahu artinya. Tapi jika kata yang tak Anda ketahui artinya itu sudah umum, Andalah masalahnya: jadi carilah di kamus. Dan jangan ragu menanyakan arti kata yang tak Anda ketahui artinya yang diucapkan oleh narasumber dalam sebuah wawancara—jangan-jangan si narasumber juga tak paham benar makna kata itu.


Namun dalam berita ekonomi dan bisnis, mungkin juga seni dan olah raga serta ilmu dan teknologi, seringkali penggunaan kata yang tak populer dalam percakapan sehari-hari tak bisa dielakkan. Jadi, kata itu perlu dijelaskan artinya bila terpaksa dipakai. 


Kebijakan yang paling baik buat penulis radio: simpan katakata yang tidak biasa, untuk membuat teka-teki silang.


6. Jangan menggunakan kata-kata tanpa fungsi.


Seringkali untuk lebih menjelaskan atau untuk memberikan tekanan pada peristiwanya, kita tambahkan satu kata di depannya.

Kata tersebut tak menambah apa pun kecuali memperpanjang kalimat.


- Aktivitas pelatihan di kolam renang terhenti. (Pelatihan di kolam renang terhenti.)

- Insiden penembakan di Poso. (Penembakan di Poso.)

- Situasi keramaian pasar malam dimulai petang hari. (Keramaian pasar malam dimulai petang hari.)

- Warga Jakarta sering mengalami kebanjiran. (Warga Jakarta sering kebanjiran.)

- Di masa reformasi atmosfir percaturan politik Indonesia semakin demokratis. (Di masa reformasi percaturan politik Indonesia semakin demokratis.)

- Sehabis hujan biasanya kondisi udara sejuk dan bersih Sehabis hujan biasanya udara sejuk dan bersih.

- Sejumlah 300 orang hadir dalam rapat umum Tiga ratus orang hadir dalam rapat umum.

- Ia dibayar senilai Rp 6 juta. (Catatan: bila ia dibayar dengan uang, senilai bisa dihapus; tapi bila ia dibayar dengan bukan uang, misalnya barang seharga Rp 6 juta, senilai bisa dipakai).

- Koruptor itu dijatuhi hukuman selama 12 tahun; atau, Koruptor itu dijatuhi hukuman 12 tahun lamanya -- Koruptor itu dijatuhi hukuman 12 tahun.


7. Jangan menggunakan kata sehingga kata itu samar-samar maknanya.


- Profesor itu diduga terlibat penjiplakan sebuah disertasi. (Tak jelas apakah profesor ini pelaku utama, hanya membantu, atau sebagai penguji yang meluluskan penulis disertasi itu meski ia tahu disertasi tersebut hasil jiplakan).

- Kenaikan tarif angkutan penyeberangan disambut aksi mogok oleh para sopir bus dan pihak-pihak yang merasa dirugikan(Siapa pihak-pihak ini?).


Bila memungkinkan, sebutkan secara spesifik: keterlibatan professor itu dalam hal apanya; siapa pihak-pihak yang dirugikan, apakah para pengguna angkutan penyeberangan, aparat kepolisian, karyawan bea dan cukai, atau siapa?


8. Jangan menggunakan frasa yang lagi jadi mode.


Sebenarnya penggunaan frasa yang lagi mode secara tepat menjadikan kalimat lebih komunikatif; tapi ini untuk tulisan feature di media cetak. Dalam berita radio pemakaian frasa yang lagi mode cenderung membingungkan. Pernah judul sandiwara kelompok komidi Srimulat menjadi frasa populer dan masuk pula ke dunia jurnalistik: “Untung ada Gepeng.” Waktu itu bermunculan judul, atau kalimat awal atau akhir tulisan berita di surat kabar menggunakan frasa ini. Misalnya, “Untung ada Bang Ali”. Atau frasa yang lebih baru dan menjadi mode, “Ada

apa dengan Cinta,” judul sebuah film. Dalam berita di media “Cinta” bisa diganti dengan siapa saja: “Ada apa dengan Pak Hakim?”, “Ada apa dengan Ketua BPK?”, dan sebagainya. Bila frasa yang modis ini muncul dalam berita radio, baik di awal atau akhir berita, kejenakaan dan ketangkasan frasa ini tak akan efektif, malah bisa membingungkan. 


Pembaca media cetak punya kesempatan berpikir dan mengingat-ingat hingga memungkinkan pembaca itu menemukan frasa aslinya. Peluang ini tak dimiliki pendengar radio; jadi sebaiknya penggunaan frasa dihindari saja.


Selanjutnya 9. Jangan menggunakan kata-kata susah yang kira-kira tak cepat dipahami oleh pendengar.




Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!