Sasmito: Redaksi Itu Harus ada Dialog!

“Saya dulu membayangkan, kalau wartawan itu ya bertugas di lapangan atau meliput kejadian di luar, tapi ternyata jadi wartawan tak selalu harus bekerja di lapangan,”

Kamis, 24 Mar 2016 14:58 WIB

Editor KBR, Sasmito Mahdrim

Hobi menulis cerpen dan naskah teater sejak mengecap pendidikan SMA di Jombang, Jawa Timur, mengantarkan  salah satu Editor KBR,  Sasmito Mahdrim menerjuni dunia jurnalistik. Meski kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Pendidikan Sejarah  pada Universitas Negeri Jakarta UNJ, namun ia aktif di pers kemahasiswaan.  Pengalaman itulah yang mendorongnya menjadi wartawan.  Sudah 7  tahun ia bekerja di media dan 5 tahun terakhir bersama  KBR. Semua tugas  kewartawanan di KBR, pernah ia tekuni. Mulai dari reporter di lapangan, produser, merancang TOR program KBR Pagi, menggawangi Kabar Baru, meracik Buletin Pagi, Buletin Siang dan Buletin Sore, serta sempat memegang salah satu program khusus KBR; Daerah Bicara. “Saya dulu membayangkan, kalau wartawan itu ya bertugas di lapangan atau meliput kejadian di luar, tapi ternyata jadi wartawan tak selalu harus bekerja di lapangan,” ujar pria yang saat ini tengah sibuk mewartakan Buletin Sore dan Kabar Baru.

Untuk menyajikan berita yang tepercaya, aktual dan menginspirasi, tentulah penuh perdebatan dan konflik dengan sesama awak redaksi. Tak jarang, pria satu anak ini terlibat ketegangan dengan tim redaksi terkait dengan tema atau narasumber yang dihadirkan. Namun, baginya, itulah dinamika kerja dan bukan menjadi persoalan yang merusak pertemanan atau etos kerja. “Bagus sih, kalau enggak ada dinamika atau dialog, malah mati. Kalau redaksi  memang harus ada dialog, dan menurut gue itu syarat mutlak di redaksi,” ungkap Sas, panggilan akrab pria yang hobi menonton film ini.

Penyuka bakso dan kopi hitam ini, termasuk awak redaksi yang tak sungkan mengkritik atau memprotes sesuatu  hal jika itu dianggapnya salah atau menyimpang. Ia juga peduli dengan aktifitas dan nasib rekan- rekan sekantornya. Tak heran, kalau ia dipercaya oleh PT. MLIN  menjadi ketua Serikat Pekerja KBR, hampir satu tahun ini. “Saya mengenal KBR itu dari kuliah. Yang saya suka dari KBR itu, di sini saya bisa bebas menulis sesuai kemauan tanpa mengesampingkan kaidah jurnalistik. Dan KBR itu independen tanpa diintervensi  oleh  pemilik modal,” tegas pria yang pembawaannya kebapakan ini.

Hobi menulisnya, tak hanya diwujudkan dengan tulisan yang dipampang di Mading Kampus  UNJ tempat ia kuliah dulu  atau  dimuat di website kbr.id. Tapi, ia juga mengabadikan karyanya pada sebuah buku.  GYT (Gayatri) itulah judul novel yang  baru saja ia telurkan. “Baru beberapa minggu, sekarang  sudah terjual ratusan,” pungkas Sas sambil melanjutkan pekerjaannya.


Editor : Vivi Zabkie
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing