Green Radio Pekanbaru hari ini (6/1/2016) genap berusia dua tahun mengudara di Kota Pekanbaru. Hari ini, studio Green Radio diramaikan kehadiran Sahabat Green dan sejumlah nara sumber. Kami berharap ini menjadi momen semakin menguatkan komitmen bersama untuk terus berjuang dan menyuarakan tentang lingkungan.



Keceriaan terjadi saat pemotongan kue bersama Sahabat Green dan nara sumber. Dalam suasana yang renyah sembari berharap permasalahan lingkungan di Indonesia, terutama di Riau, segera terselesaikan.

Beberapa sahabat dan narasumber ikut santap siang bersama kami di Green Radio diantaranya adalah Woro Supartinah dari Jikalahari, Riko Kurniawan dari Walhi Riau, Staphanie Theng dari WWF Riau, Helda Khasmi dari Seruni, InfoPKU, AMAN, Forum Jurnalis Ekonomi Lingkungan, Ravelino Parlindungan dari  Nongkrong Bareng Arsitek, Usman dari Fitra Riau, dan  Prof. Haris Gunawan Ahli Gambut Universitas Riau.


Selepas obrolan santai sembari makan siang, diskusi mulai mengarah lebih serius. Meski matahari bersinar terik, tidak menghalangi  diskusi tentang pelestarian lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan gambut, persoalan yang harus diselesaikan dengan cermat, harapan-harapan terhadap kebijakan pemerintah adil bagi masyarakat.

Lebih jauh diskusi ini akan memberi dorongan kepeda Pemerintah dalam hal ini KLHK, memberikan solusi bukan janji kepada masyarakat untuk memberi kepercayaan pengelolaan Hutan Desa di Provinsi Riau


Menjelang sore, kami mendapat kejutan dari salah satu nara sumber program Gaharu Kita dari Nongkrong Bareng Arsitek yang dibawa oleh Rizky berupa cendera mata dengan bingkai yang indah. Semoga dengan ini, semangat untuk mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan, terutama untuk hunian akan lebih kuat lagi. 

Terima kasih untuk dukungannya selama ini untuk Green Radio di Pekanbaru!

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!