Yeb Sano, Perjalanan Panjang Aktivis Pejuang Lingkungan Filipina

Pidato emosional Yeb untuk korban Haiyan menarik perhatian dunia selama konferensi perubahan iklim di Warsawa, Polandia.

Senin, 21 Nov 2016 11:12 WIB

Aktivis lingkungan Filipina, Yeb Sano. (Foto: Madonna Virola)

Aktivis lingkungan Filipina, Yeb Sano. (Foto: Madonna Virola)


Tahun ini adalah tahun keempat setelah Topan Haiyan menghantam Filipina - topan terkuat di dunia, dengan skala kerusakan hebat.

Daerah yang paling terdampak adalah Kota Tacloban. Ini adalah kota kelahiran aktivis perubahan iklim, Yeb Sano.

Pidato emosional Yeb untuk korban Haiyan menarik perhatian dunia selama konferensi perubahan iklim di Warsawa, Polandia.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola, bertemu Yeb di Kota Quezon dan menyusun kisahnya untuk Anda.

Saya berasa di kantor Greenpeace Asia Tenggara di kota Quezon Filipina. Ini adalah kantor bergaya minimalis dengan produk pembersih organik ada di wastafel dapur.

Saya berada di sini untuk bertemu direktur eksekutif Greenpeace yang baru, Nadarev Madla Sano, yang akrab dipanggil Yeb.

Dia baru saja kembali dari membagikan informasi soal lingkungan di sekolah putranya.

Saya sudah bertemu dengan banyak aktivis perubahan iklim tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Yeb.

Dia bukan orang yang pemarah atau bombastis. Dia lembut dan sederhana dan benar-benar mendengarkan ketika Anda menanyakan pertanyaan.

Yeb sudah menduduki posisi senior di dunia lingkungan, tapi karirnya bersinar ketika dia menarik perhatian para pemimpin dunia pada konferensi perubahan iklim di Polandia, tahun 2013.

Itu tiga hari setelah topan terkuat di dunia, topan Haiyan, yang menewaskan lebih dari tujuh ribu orang di kota kelahiran Yeb, Tacloban.

Setelah Haiyan melanda, Yeb menjadi pemohon dalam kasus melawan perusahaan penghasil karbon, yang karbonnya menurut para ilmuwan berkontribusi pada kondisi cuaca ekstrim.

Komnas HAM Filipina akan segera memeriksa kasus ini.

Ini adalah Yeb ketika berpidato di konferensi di Polandia.

“Krisis iklim adalah kegilaan. Saya berbicara mewakili orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, yang tewas atau menjadi yatim piatu akibat badai ini. Kami menolak untuk menerima bahwa melarikan diri dari badai, mengevakuasi keluarga kami, menderita kehancuran dan kesengsaraan, menjadi cara hidup. Sekarang saya akan memulai puasa sukarela demi iklim sampai mendapat hasil yang berarti,” tekad Yeb.

Dan ini komentar Yeb merefleksikan penyataanya tiga tahun silam.

“Saya membuat permohanan emosional keada pemimpin dunia agar melihat masalah perubah iklim ini sebagai hal yang serius. Karena masalah ini berdampak besar pada banyak masyarakat di dunia. Kita tidak hanya bicara soal korban topan tapi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, mengalami ketidakadilan lingkungan,” jelas Yeb.

Sejak itu upaya Yeb tidak pernah berhenti.


Untuk menghormati para korban topan terkuat itu, Yeb dan 12 orang lain, termasuk saudaranya, seniman AG Sano, berjalan kaki sejauh seribu kilometer. Mereka berjalan kaki dari kota Tacloban ke Manila selama 40 hari.

“Kami akan selalu mengingat pelajaran yang kami pelajari tentang semangat orang Filipina. Sewaktu kami melewati desa-desa dan kami adalah orang asing di sana, penduduk memberi kami makanan, tempat tinggal dan air minum,” kenang Yeb.

Dan ketika pertemuan global besar berikutnya berlangsung di Paris, dia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan melakukan aksi jalan kaki kedua.

Kali ini berlangsung selama 60 hari - melalui pegunungan di Italia hingga ke pintu KTT perubahan iklim di Paris. Dia menyebutnya sebagai 'Ziarah Rakyat'.

“Selama perjalanan itu, setiap hari kami berhenti dan berbicara dengan warga. Kadang saudara saya memimpin pembuatan mural di dinding-dinding. Kami selalu katakan Paris bukan tujuan kami sebenarnya melainkan mencapai hati dan pikiran masyarakat di seluruh dunia,” jelas Yeb.

“Perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan tapi berkaitan dengan akuntabilitas orang-orang yang menyebabkan kerugian terhadap orang lain.”

Yeb mengatakan kata yang tepat untuk meringkas masalah yang harus diatasi dunia terkait perubahan iklim yaitu ketamakan dan apatisme.

Selain memikirkan gambaran besar tentang kemanusiaan, gerakan global dan peran millenial, Yeb menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh rumahnya, misalnya, menggunakan tenaga surya.

“Setiap kali saya bangun di pagi hari, terutama ketika saya di Filipina, saya ingin bisa memberitahu anak-anak saya, kalau saya sudah melakukan yang terbaik,” kata Yeb.

Dia tahu betapa pentingnya generasi berikutnya.

“Saya ingat ketika masih berusia 11 tahun, saya menanam pohon di depan rumah kami. Lalu suatu hari ketika saya pulang, pohon itu sudah tidak ada lagi. Seseorang telah memotongnya. Itu pengalaman yang sangat menyakitkan bagi saya,” kenang Yeb. 

“Saya membesarkan pohon itu selama satu tahun hingga tingginya lima meter. Sejak hari itu saya bertekad akan melindungi alam.”

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi