isl

Ilustrasi: Antara

KBR, Balikpapan – Pelatih dan pemain klub hanya bisa pasrah jika akhirnya manajemen klub memangkas gaji ataupun melakukan renegoisasi kontrak karena kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2015 yang makin tak jelas kapan akan digelar kembali, setelah dihentikan 12 April lalu.

Pelatih Persiba Balikpapan Eddy Simon Badawi mengatakan, pemangkasan gaji dan renegosiasi kontrak pasti akan dilakukan seluruh managemen klub peserta kompetisi ISL, jika kompetisi ditunda dua hingga tiga bulan ke depan. Karena jika tidak, klub akan mengalami kerugian.

Hanya Eddy Simon mengingatkan, manajemen klub sebelum memangkas gaji  atau pun melakukan renegosiasi kontrak harus terlebih dulu dilakukan pembicaraan sehingga ada kesepakatan antara pelatih, pemain dan pelatih. Karena mereka juga memahami kesulitan manajemen klub.

“Kita juga tahu kondisi (sulit klub) karena bukan hanya Persiba, mungkin hampir semua tim yang mengatakan begitu karena waktunya juga (belum jelas Kapan ISL digelar) kita memahami hal itu. Sebagai orang yang profesional kita silahkan, tapi itu kan juga harus ada kesepakatan ya kan,” kata Eddy Simon Badawi, Sabtu (18/4/2015).

Eddy Simon meminta agar PSSI, PT Liga Indonesia, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) dan Kemenpora akan duduk bersama menyelesaikan konflik mereka, sehingga kompetisi ISL ada kejelasan dan bisa digelar kembali.

Kata dia, jika kompetisi ISL tak ada kejelasan maka yang paling terkena dampaknya adalah pelatih dan pemain. Sebab selama ini ekonomi keluarga 100 persen bergantung dari sepakbola. Jika tak ada kompetisi, maka merekja tidak main.

Sebelumnya manajemen klub-klub peserta ISL sudah menyatakan akan memangkas gaji ataupun melakukan renegosiasi kontrak pelatih maupun pemain jika kompetisi ISL ditunda dua hingga tiga bulan ke depan.

Editor: Anto Sidharta 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!