Nelayan Tangerang Minta Komitmen TNI Tak Kirim Tentara ke Proyek Jembatan Pulau C

Pendamping warga dari Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, Tigor Hutapea mengatakan, selama penjagaan itu warga merasa sangat tidak nyaman karena merasa diawasi dan menimbulkan trauma.

Kamis, 28 Des 2017 12:42 WIB

Aktivitas pembangunan di Pulau C hasil reklamasi Teluk Jakarta. (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

ARTIKEL TERKAIT

KBR, Jakarta - TNI dikabarkan telah menarik sekitar 20 anggotanya dari Kampung Baru Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten yang selama sepekan belakangan ini berada di wilayah itu. 

Masyarakat di perkampungan nelayan itu mencurigai keberadaan anggota TNI itu untuk menjaga proyek pembangunan jembatan penghubung daratan dari Pulau C hasil reklamasi Teluk Jakarta dengan kawasan daratan sebelah utara Jakarta.

Pendamping warga dari Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, Tigor Hutapea mengatakan, selama penjagaan itu warga merasa sangat tidak nyaman karena merasa diawasi dan menimbulkan trauma. 

Kini, warga Kampung Dadap telah menyiapkan musala untuk lokasi mediasi dengan TNI. Tawaran mediasi dilakukan setelah sebelumnya warga batal mengadu ke Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Mulyono dan Polisi Militer TNI Angkatan Darat (POM TNI AD). 

"Sudah tidak ada penjagaan lagi. Tetapi warga tetap ingin meminta komitmen secara tegas dari Danrem, karena memang sebelumnya pernah ada pernyataan bahwa TNI tidak akan menjaga. Tetapi kok tiba-tiba seminggu lalu mereka masuk. Warga juga takut, ke depannya bakal kejadian lagi. Katanya menunggu pertemuan hari Kamis. Tapi sampai saat ini kita belum dikasih tahu kapan dan kepastiannya, apakah jadi atau tidak," kata Tigor Hutapea, Rabu (27/12/2017).

Baca juga:

Tigor mengatakan sampai Rabu malam warga belum mendapat kepastian soal jadwal mediasi dengan Komandan Korem (Danrem) 052. Dalam pertemuan nanti, kata Tigor, warga akan mendesak komitmen Danrem agar tak lagi menerjunkan tentara ke perkampungan. 

Tigor menjelaskan sebelum penerjunan tentara kali ini, TNI sudah pernah berjanji tak akan terlibat dalam proyek jembatan di Kampung Dadap.

Pendamping warga, Tigor Hutapea menegaskan warga sangat tidak nyaman dengan kehadiran tentara bersenjata di permukiman nelayan. Biasanya, aparat TNI itu berjaga di sekitar proyek jembatan, sambil sekali-kali berkeliling kampung menggunakan sepeda motor. 

Menurut Tigor, kehadiran tentara di permukiman nelayan sampai menimbulkan efek traumatis karena merasa selalu diawasi.

Pembangunan jembatan itu merupakan hasil perjanjian kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta dengan Pemerintah Provinsi Banten. Rencananya, jembatan itu akan mulai dibangun awal 2018, dengan ketinggian 10 meter di atas permukaan laut. 

Jembatan akan menghubungkan Pantai Pasir Putih Dadap dengan Pulau C. Jika jembatan itu selesai dibangun maka jembatan sepanjang 900 meter---sesuai rencana---itu akan menjadi akses jalan pertama yang menghubungkan daratan Pulau Jawa dengan pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.