Pesan Damai dari Cirebon di Penghujung 2016

Pada penghujung tahun 2016, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar pentas seni bertajuk "Pesan Damai dari Cirebon Untuk Indonesia".

Sabtu, 31 Des 2016 22:58 WIB

Ilustrasi: Seorang bocah meniup terompet sambil menikmati suasana matahari terbenam (sunset) pada akhir tahun 2016. (Foto: ANTARA)


KBR, Cirebon - Pada penghujung tahun 2016, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar pentas seni bertajuk "Pesan Damai dari Cirebon Untuk Indonesia". Pagelaran yang diadakan di salah satu destinasi wisata di Cirebon, yakni Goa Sunyaragi ini dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada tengah malam 00.00 WIB, Sabtu (31/12/2016).

Tepat pada malam pergantian tahun, 1.000 lampion akan diterbangkan, 1.000 balon dilepaskan, ditambah 250 kembang api yang turut menerangi langit Cirebon.

Sultan Sepuh XIV, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan, helatan ini didukung oleh seribuan penari dan seniman dengan menampilkan pertunjukkan tarian tradisional dan modern. Selain itu ada pula peragaan busana batik, hadroh dan bersalawat.

"Pagelaran ini menampilkan seni tari, peluncuran lampion dan balon untuk menyampaikan pesan damai untuk Indonesia," ujar Pangeran Raja Adipati Arief, Sabtu (31/12/2016).

Dia pun menyatakan, lampion kembang api dan balon yang diterbangkan itu menyimpan filosofi, cahaya yang dipancarkan itu bermakna penerang hati manusia agar senantiasa terbuka pada tahun mendatang untuk saling menjaga kerukunan, persatuan, dan perdamaian.

"Cahaya yang kita terbangkan dari Cirebon ini akan menerangi seluruh Indonesia, menerangi dalam hal kebaikan, menerangi dalam hal kedamaian, menerangi dalam hal Kebhinekaan," tuturnya.

"Saya berharap tidak ada lagi gelap gulita di Indonesia. Sehingga kita dijauhkan dari saling mencaci, gontok-gontokkan, saling menghujat, dan saling memfitnah, yang merupakan simbol kegelapan hati manusia," lanjutnya.

Baca:

Kedamaian di Cirebon, kata dia, sudah terpelihara sejak lebih dari 600 tahun lalu sehingga dirinya merasa optimistis apabila pesan perdamaian yang dikemas melalui pagelaran seni dan budaya ini akan sampai ke seluruh penjuru nusantara.

"Sebetulnya kita sudah tidak berbicara persatuan dan kesatuan lagi, toleransi dan tidak berbicara saling menghargai lagi. Karena Cirebon ini sudah sejak 600 tahun lalu terbentuk dari berbagai suku,  agama, budaya, dan bangsa. Cirebon memang punya karakter demikian," pungkasnya. (ika)

Baca juga: Rayakan Tahun Baru di Bandung dengan Kembang Api, Ini Imbauan Polisi

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Majelis Hakim Putus Bebas Terdakwa Kasus UU ITE, Baiq Nuril Menangis Haru

  • Dilaporkan Polisi, Novel Baswedan Tertawa
  • DPR dan Pemerintah Sepakati Pasal Penyadapan dalam RUU Terorisme
  • Bela Negara Akan Masuk ke Orientasi Mahasiwa Baru

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.