Polda Bali Minta Kepanikan Warga Bulan Lalu Tak Terulang Lagi

Pada 22 September 2017, terjadi kepanikan warga ketika Gunung Agung ditetapkan dalam status Awas (Level IV). Saat itu beredar kabar palsu letusan Gunung Agung.

Rabu, 22 Nov 2017 14:16 WIB

Gunung Agung mengeluarkan asap setinggi 700 meter, Rabu (22/11/2017). (Foto: KBR/Yulius Martoni

KBR, Karangasem - Aparat kepolisian meminta masyarakat Bali tidak panik dan tetap mengungsi dengan tenang saat Gunung Agung erupsi.

Kapolda Bali Petrus Golose mengatakan sudah mendapatkan laporan terjadinya letusan freatik Gunung Agung. Petrus juga telah meminta kepala Polres di Bali tidak membiarkan terjadinya kepanikan, supaya tidak terulang kepanikan pada 22 September 2017 lalu. 

Pada 22 September 2017, terjadi kepanikan warga ketika Gunung Agung ditetapkan dalam status Awas (Level IV) membuat evakuasi warga saat itu sulit dikendalikan. Saat itu beredar kabar palsu mengenai adanya letusan Gunung Agung.

"Masyarakat yang ada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III tidak perlu panik. Silakan berkoordinasi dengan petugas keamanan setempat. Aparat keamanan tetap siaga, terus memantau melalui Babinkantibmas," kata Petrus Golose, di Bali, Rabu (22/11/2017).

Kapolda Bali Petrus Golose mengatakan sudah mengecek juga situasi di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Menurut Petrus, kondisi bandara tetap normal, dan tidak ada gangguan kunjungan wisata di Bali. 

Polda Bali sebelumnya sudah menggelar apel kesiapsiagaan guna mengantisipasi erupsi Gunung Agung. 

"Ada 1.900 aparat yang disiapkan, tanpa senjata, tapi dilengkapi peralatan yang dibutuhkan jika terjadi erupsi. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Gubernur Bali," kata Petrus Golose. 

Ia berharap erupsi Gunung Agung tidak menjadi isu menakutkan yang membuat masyarakat panik, karena hal itu bisa berdampak negatif bagi masyarakat lokal maupun internasional. 


Petugas mengamati rekaman seismograf pantauan aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali Selasa (21/11/2017). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

Baca juga:

Hujan abu

Sejak letusan perdana Gunung Agung, pada Selasa, 21 November 2017, sekitar pukul 17.00 WITA, sejumlah daerah di sekitar Gunung Agung mulai diselimuti hujan abu. 

Debu erupsi Gunung Agung terlihat di Desa Pidpid dan Desa Sebudi, di Kecamatan Selat. Selain itu, debu erupsi juga ditemukan di Dusun Yeh Kori, Desa Jungutan, di Kecamatan Bebandem, Karangasem. Debu tampak menempel di kendaraan bermotor maupun di dedaunan sekitar perkampungan. 

Petugas pemantau Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Dewa Merta Yasa mengatakan pada Rabu sore, terjadi letusan freatik dengan keluarnya asap hitam pekat dari puncak Gunung Agung. 

Semburan abu dari Gunung Agung, kata Dewa Merta, mengarah timur dan tenggara. 

"Letusan freatik itu merupakan dampak dari naiknya magma. Letusan abu mencapai hingga 700 meter dan jarak luncur ke timur dan tenggara hingga warga diminta wapada," kata Dewa Merta.

Menurut Dewa Merta, Gunung Agung saat ini sedang bergoyang di permukaan. 

"Kita pantau terus, apakah akhirnya sumbatan lava pada 1963 itu bakal terbongkar sepenuhnya atau tidak. Kalau sumbat lava sudah terbongkar, kemungkinan di area puncak nanti akan terlihat terang karena lava segar keluar. Juga nanti akan terdengar suara gemuruh. Tapi kita tidak bisa pastikan. Kita hanya bisa berdoa semoga lava yang keluar tidak sampai besar," kata Dewa Merta.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi