Ilustrasi: (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)


KBR, Banyumas– Ratusan umat Hindu di desa Klinting kecamatan Somagede kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menggelar ritual upacara Pujawali Pura, Selasa (1/11/2016). Ketua panitia upacara, Dani Eko Wisnu mengatakan ritual ini dilakukan per tahun untuk memperingati pendirian Pura di desa setempat. Kata dia, puputan dilakukan Pujo Broto Sejati, yang khusus didatangkan dari Jakarta.

Salah satu tujuan gelaran ini adalah dalam rangka pembersihan alam semesta, agar terjadi keharmonisan hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

Dia menjelaskan, tahun ini merupakan tahun utama sehingga persiapan yang dilakukan lebih lengkap. Pada tahun sebelumnya, diadakan perayaan nista (biasa) dan madya atau sedang. Tamu pun menurut dia lebih banyak. Mereka berasal dari Banyumas dan kabupaten sekitar, seperti Banjarnegara, Purbalingga dan Cilacap. Bahkan ada juga tamu yang sengaja datang dari Surabaya, Jakarta dan Lampung.

"Ritual Pujawali ulang tahun Pura, kebetulan ini kan dipuput oleh beliau Romo Pandito Agung, sehingga persiapannya dilakukan seperti ini (lebih lengkap). Akan tetapi kalau tahun sebelum-sebelumnya dilakukan sederhana. Karena memang ada pujawali nista, madya, nah yang ini utama. Kalau ini dalam rangka pembersihan alam semesta. Sehingga nantinya akan terjadi keharmonisan hidup, antara manusia dengan Tuhan, antar sesama manusia, dan manusia dengan alam," jelas Dani Eko Wisnu di Somagede Banyumas, Selasa (1/11/2016)

Lebih lanjut Eko Wisnu mengungkapkan, sebelum digelar ritual Pujawali Pura, dilakukan ritual mendak tirto di empat penjuru mata angin. Yakni, di Cilacap, Pegunungan Kendeng, Pati, Sumur Pitu Baturraden, Banyumas, dan Sumur Mas, Banyumas.

Dia menambahkan, karena ini merupakan upacara utama, maka ritual yang diadakan pun lebih lengkap. Antara lain, mendak betara, mendak tirto, puputan dan ritual lainnya. Ritual ini dilakukan di kompleks pura dan di luar pura.

Umat Hindu Klinting Somagede adalah kaum minoritas di daerahnya. Namun, selama ratusan tahun, mereka hidup berdampingan dengan umat Muslim yang merupakan mayoritas dan agama lainnya.

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!