Wayang suket terancam punah. Kini di Purbalingga, Jawa Tengah tinggal dua pengrajin wayang suket yang masih ada. Sedangkan seluruh dalangnya sudah meninggal. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)



KBR, Purbalingga– Seni wayang suket atau wayang yang terbuat dari rumput terancam puncah menyusul minimnya seniman yang terjun pada jenis seni pertunjukan itu. Seniman pembuat wayang suket di Purbalingga, Ikhsan mengatakan, saat ini di Purbalingga hanya ada dua pengrajin, yakni dia sendiri dan Badriyanto. Bahkan, saat ini sudah tidak ada satu pun dalang yang hidup.

Ikhsan menjelaskan, dua dalang wayang suket, yakni Mbah Gepuk asal Purbalingga dan Ki Slamet Gundono asal Tegal sudah sama-sama meninggal. Jika pun ada yang mementaskan, kata Ikhsan, wayang suket hanya dipentaskan untuk tujuan pertunjukan selingan atau untuk kepentingan dokumentasi.

"Yang pernah memainkan, yang saya tahu, adalah Mbah Gepuk dan Ki Slamet Gundono. Keduanya sudah almarhum. Kalau Ki Slamet Gundono itu bukan dalang wayang suket full, artinya dia itu dalang kontemporer ya. Sedangkan Mbah Gepuk itu memang dalang wayang suket. Dia membikin kemudian mementaskan," ujarnya kepada KBR, Jumat (14/10/2016).

Sementara, pegiat Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) Nurgroho Pandu menjelaskan, pengrajin wayang suket berusaha eksis dengan mengikuti pameran di dalam dan luar negeri. Mereka menjual kerajinan wayang suket untuk dikoleksi para pecinta wayang. Per satu wayang berharga antara Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung kerumitan tokoh wayang. Sedangkan harga gunungan yang lebih rumit dan berukuran besar biasa dijual di atas Rp 1 juta.

Dia menambahkan, dalam pementasan, wayang suket lebih sederhana dibanding pertunjukan wayang kulit. Selain itu bisa dilakukan satu orang, tanpa penayagan atau gamelan. Namun, lantaran kesan sederhana ini, wayang suket dianggap tak menjanjikan secara ekonomi sehingga banyak seniman yang meninggalkannya.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!