12 Tahun Mati Suri, Pelabuhan Somber Balikpapan Akan Dihidupkan Kembali

Pelabuhan Somber pernah digunakan untuk melayani kegiatan transportasi penumpang, dari Balikpapan menuju Penajam Paser Utara sejak 1979 hingga 2004.

Rabu, 05 Okt 2016 11:34 WIB

Kendaraan tangki melintas dekat dermaga Pelabuhan Somber, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Foto: dishub.balikpapan.go.id)



KBR, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan Kalimantan Timur dalam waktu dekat akan memiliki pelabuhan khusus untuk bongkar muat bahan-bahan kebutuhan pokok (sembako).

Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengatakan Pelabuhan Somber di Kecamatan Balikpapan Utara akan dioperasikan pada akhir tahun 2016.

Pelabuhan Somber pernah digunakan untuk melayani kegiatan transportasi penumpang, dari Balikpapan menuju Penajam Paser Utara sejak 1979. Namun pelabuhan ini berhenti beroperasi sejak 2004 karena sengketa pemilikan lahan.

Kini Pelabuhan Somber di Kilometer 3,5 itu akan dihidupkan kembali terutama untuk kegiatan bongkar muat barang kebutuhan pokok.

Rahmad Mas'ud mengatakan berfungsinya kembali pelabuhan khusus bongkar muat sembako diharapkan akan mampu menekan harga maupun inflasi. Apalagi inflasi Balikpapan tertinggi di Kalimantan.

Ia mengatakan anggaran yang keluarkan untuk mengoperasikan kembali pelabuhan itu tidak mencapai Rp30 miliar. Saat ini pemerintah daerah sedang mempercepat pengerjaan pelabuhan tersebut. Diantaranya perijinan pelabuhan dan bongkar muat, serta pembangunan infrastruktur seperti sandar kapal, terminal parkir hingga fasilitas pendukung.

"Kita benahi di sektor itu dulu. Untuk memperbaiki dan menekan harga-harga barang yang masuk di Kota Balikpapan salah satunya (yang perlu diperhatikan adalah) sektor pelabuhan, itu yang kita kejar sekarang. Sudah siap, artinya jalan terus (pembangunannya) mulai dari perijinan, juga fasilitasnya," ujar Rahmad Mas’ud di Balikpapan, Rabu (5/10/2016).

Rahmad Masud meyakini selama ini tingginya harga kebutuhan masyarakat khususnya sembako di Kota Balikpapan disebabkan karena lamanya bongkar muat di pelabuhan dan besarnya biaya transportasi.

Hingga saat ini sekitar 99 persen kebutuhan masyarakat Kota Balikpapan didatangkan dari Pulau Jawa, Sulawesi maupun daerah lain di Indonesia. Hal itu menyebabkan biaya hidup di Balikpapan termasuk termahal di Indonesia.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Garam Langka, Harga Ikan Asin di Banyuwangi Naik

  • Kelahiran Harimau Benggala di Banjarnegara Dianggap Mengejutkan
  • Banjir Hanyutkan Pagoda di Myanmar
  • Antonio Cassano Umumkan Pensiun untuk Kedua Kali dalam Sepekan

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.