2 Polisi Ditembak di Bima, NTB

“Pelakunya sudah diketahui. Ya itu berasal dari kelompok yang ada di Penato’i"

Senin, 11 Sep 2017 17:43 WIB

Ilustrasi

KBR, Mataram- Dua orang anggota Polres Bima Kota, Bripka Jainal dan Bripka Gafur ditembak orang tak pada Senin (11/09)  sekitar pukul 07.00 Wita. Mereka ditembak  usai mengantar anak  ke sekolah.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah NTB, Imam Margono di Mataram mengatakan, para pelaku penembakan sudah langsung dikenali. Namun ia enggan menyebutkan lebih lanjut apakah  kelompok tersebut berasal dari kelompok radikal atau kelompok lainnya.

“Pelakunya sudah diketahui. Ya itu berasal dari kelompok yang ada di Penato’i tersebut. Untuk sementara baru satu orang yang diketahui, nanti kita akan terus kembangkan. Indikasinya belum kita ketahui karena belum kita tahu dari pihak mereka (apa maunya-red), namun yang jelas dua nggota kita ditembak usai mengantar anaknya sekolah,” kata Imam Margono, Senin (11/09).

Bripka Jainal usai mengantar anaknya di sebuah SD di Kelurahan Penatoi, Kota Bima diduga dibuntuti dua orang. Setelah sampai di Kelurahan Sadia, Kota Bima, anggota Sat Sabhara Polres Bima Kota itu ditembak oleh dua orang yang membuntutinya. Ia menderita luka tembak di bahu kanan bagian belakang.

15 menit kemudian, kejadian serupa dialami Bripka Gafur sepulang mengantar anaknya di salah satu SMP di kelurahan Penatoi, Kota Bima.  Anggota Polsek Langgudu itu menderita luka tembak di pinggang kanan. Dua polisi itu kini masih menjalani operasi di RSUD Bima untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya.


Sebelumnya Densus 88 menangkap sejumlah warga Penatoi atas sangkaan terlibat kasus terorisme. Di antaranya Satrio pada 10 Oktober dan Iskandar pada 15 Desember 2013. Selain itu Kr, Hd,  OG alias RA pada Juni lalu. Mereka disebut-sebut sebagai jaringan Penatoi.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.