Ilustrasi sertifikat tanah. (Foto: lapor.go.id)



KBR, Cilacap – Sekitar 125 keluarga di dua desa terancam terusir dari tanahnya setelah TNI Angkatan Darat mengklaim tanah seluas 500 hektar lebih di pesisir Desa Widarapayung Kulon dan Widarapayung Wetan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Ketua Serikat Tani Merdeka, Sarwono mengatakan TNI menyerobot tanah warga dengan alasan akan digunakan sebagai tempat latihan. Namun, ternyata saat ini pihak TNI malah membangun tambak ikan dan udang di lahan yang diklaimnya itu.

Sarwono mengatakan, tambak ikan TNI itu mulai dibangun semenjak diberlakukannya moratorium penambangan pasir besi di seluruh kawasan pesisir Cilacap.

Tanah yang diklaim TNI tersebut, kata Sarwono, merupakan lahan garapan warga yang sudah dikelola sejak tahun 1950-an.

Para petani dan keluarga yang terancam tergusur sempat mengadukan persoalan ini ke Komnas HAM pada tahun lalu. Namun, hingga kini Komnas HAM belum menindak lanjuti laporan mereka.

Saat ini, 125 keluarga yang mendiami dua wilayah tersebut masih bertahan. Namun, bisa saja sewaktu-waktu mereka diusir dari rumahnya.

"Lahan itu diklaim TNI, katanya untuk tempat latihan. Luasnya keseluruhan kalau di Widarapayung Kulon dan Widarapayung Wetan sekitar 500 hektar lebih. Wong yang di tempatnya Pak Tohari, di Widarapayung Kulon saja ada 225-an hektar lebih. Sekarang, karena pasir besi bangkrut atau distop, maka dibangun tambak ikan dan ada tambak udang juga katanya. Ditanya juga tidak pernah ada yang menjawab," kata Sarwono.

Tokoh warga Widarapayung Kulon, Sunarso mengatakan warga mengalami krisis air bersih sejak penambangan pasir besi dimulai pada 2011 lalu.

Debit air sumur warga menyusut dan berasa asin. Ia menduga bekas kubangan penambangan pasir besi yang sekarang diubah menjadi tambak itu menyebabkan turunnya permukaan air tanah.

Krisis air juga terjadi pada lahan pertanian warga yang kini jadi mudah kering lantaran banyaknya kubangan bekas penambangan pasir besi yang tidak direklamasi.

Sunarso menambahkan, klaim tanah seluas 500 hektar lebih oleh TNI AD menyebabkan ratusan kepala keluarga terancam kehilangan tempat tinggal dan lahan garapan.

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!