Sejumlah warga Desa Sumberagung melakukan aksi mogok makan di depan Kantor Bupati Banyuwangi menolak aktivitas tambang emas di kawasan Tumpang Pitu, (19/3/2016), Foto: Antara


KBR, Banyuwangi- Organisasi Lingkungan Banyuwangi Forum For Environmental Learning (BaFFEL) menyebut kawasan Gunung Tumpang Pitu yang menjadi lokasi penambangan emas merupakan habitat satwa yang dilindungi.

Juru Bicara Banyuwangi Forum For Environmental Learning (BaFFEL) Rosdi Bahtiar Martadi mengatakan, sedikitnya sepuluh jenis burung seperti burung Kuntul Cina, Prenjak, Tekukur menjadikan Tumpang Pitu sebagai rumah mereka. Keutuhan Tumpang Pitu, kata dia, juga penting bagi hidup babi hutan, monyet, kijang, rusa, dan 4 jenis mamalia lainnya.

“Belum lagi berbagai jenis reptil di antaranya, kadal, biawak, ular tanah, menjadi mata rantai makanan yang tak terpisahkan,” kata Rosdi Bahtiar Martadi (2/9/2016).

Hutan lindung Gunung Tumpang Pitu, kata Rosdi juga menjadi tempat hidup sedikitnya 18 jenis flora seperti Jambu Hutan (Eugenia sp.), Akasia (Acacia auriculiformis) dan Ketangi/Bungur (Lagerstromia spesiosa).

Menurut Rosdi, aktivitas tambang di Gunung Tumpang Pitu mengancam kelestarian satwa  di dalamnya. “Tidak memungkinkan hewan- hewan berbagai jenis itu migrasi ke hutan yang lain. Rosdi memperkirakan tidak sampai 1 persen satwa yang bisa bermigrasi ke tempat lain.”

Dia melanjutkan, “Dalam amdal itu ada tabel mamalianya itu menunjukan macan tutul, macan tutul itu satwa lindung. Terus menunjukan ada elang dan elang jenis apapun itu satwa lindung. Amdal itu menginventarisir fauna di dalam hutan itu dan itu dimunculkan bahwa itu ada. Berarti kalau itu ada dia masih berfungsi dong sebagai hutan lindung.”

Rosdi menambahkan, selain menjadi rumah satwa dilindungi, sebagai hutan lindung Tumpang Pitu menjadi kawasan resapan air yang penting untuk menjamin ketersediaan air bawah tanah dan sungai-sungai di sekitarnya.

Dia menunjuk buku berjudul “Mekanisme dan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) JAWA TIMUR 2002”. Menurut Rosdi, dalam buku itu dinyatakan bahwa Tumpang Pitu merupakan kawasan potensi air bawah tanah tingkat tinggi dengan potensi debit di atas 30 liter per detik.

“Ini berlawanan dengan karakter tambang yang rakus air. Bila menelisik dokumen Amdal PT IMN, diketahui, untuk melakukan pemisahan bijih emas, perusahaan tersebut setiap harinya akan membutuhkan air 2,038 juta liter.”

PT Bumi Suksesindo selaku kuasa pertambangen emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Jawa Timur menargetkan mulai berproduksi dengan target 2 juta ton emas per tahun, pada akhir 2016. Aktivitas akan dilakukan selama 8 hingga 9 tahun mendatang. Menurut perusahaan, satu ton batuan di area tersebut mengandung 0,9 gram emas.

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!