Darurat Bencana Kekeringan, Pemda NTB Minta Bantuan BNPB

"Yang Lombok Timur memang cukup parah. Untuk itu kita rekomendasi ke BNPB untuk mendapatkan dana rencana sebesar Rp 20 milyar. "

Rabu, 14 Sep 2016 20:34 WIB

Ilustrasi (foto: KBR/Musyafa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Mataram- Pemprov Nusa Tenggara Barat mengajukan anggaran sebesar Rp 20 miliar kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Anggaran tersebut, khusus untuk mengatasi bencana kekeringan di kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Terdapat 12 desa yang terdampak bencana kekeringan di Lotim. Dari jumlah itu, sebanyak tujuh desa dalam kondisi kekeringan parah. Sementara sisanya dalam kondisi kekeringan ringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum  mengatakan, selain Lotim, ada tiga kabupaten lainnya yang juga mengalami kekeringan parah, yakni Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kabupaten Bima. Sejauh ini baru Lotim yang sudah mengajukan bantuan anggaran kepada Pemprov NTB. Namun demikian, ke empat pemerintah daerah tersebut sudah menetapkan siaga darurat bencana kekeringan di masing-masing wilayahnya.

"Yang Lombok Timur memang cukup parah. Untuk itu kita rekomendasi ke BNPB untuk mendapatkan dana rencana sebesar Rp 20 milyar. Namun hasil pantauan kami sejauh ini belum keluar. Untuk Lombok Timur saja sudah diajukan sekitar tiga minggu yang lalu untuk penanganan bencana. Kalau yang lain belum, kan tergantung kondisi daerah. Daerah yang minta, yang baru kita dapatkan angkanya cuma Lombok Timur saja.” Katanya.

Ia mengatakan, bencana kekeringan ini selalu terjadi tiap tahunnya. Oleh sebab itu, Pemprov NTB berencana untuk melakukan beberapa langkah agar bencana kekeringan ini tidak terus menerus terjadi. Ke depan, pola penanganan bencana kekeringan ini akan dilakukan melalui beberapa cara, seperti melakukan water treatment, pipanisasi, sumur bor dan langkah terakhir adalah pendistribusian air bersih.

“ Selama ini kan drop air aja yang dilakukan sehingga kekeringan terus terjadi, tapi perlu upaya kongkret," ujarnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.