Perahu berlayar di kawasan laguna Segara Anak di Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Muh Ridlo/KBR)



KBR, Cilacap – Nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah meminta Pemerintah Kabupaten Cilacap melibatkan mereka dalam rencana tata ruang dan zonasi wilayah industri di Perairan Donan dan kawasan payau Segara Anakan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Sarjono mengatakan hingga saat ini, para nelayan belum pernah diajak bicara pemerintah kabupaten terkait rencana pengembangan wilayah Perairan Donan menjadi kawasan industri dan pariwisata.

Sarjono meminta di kawasan hutan mangrove dan Segara Anakan tidak didirikan bangunan lantaran akan menyebabkan penyempitan kawasan pemijahan. Ia khawatir pembangunan bisa menyebabkan penurunan populasi ikan secara signifikan.

Sepengetahuan Sarjono, sebagian wilayah yang digadang-gadang menjadi kawasan industri baru Cilacap itu merupakan kawasan pemijahan (spawning ground), pengasuhan anak ikan (nursery ground) dan kawasan untuk mencari makan (feeding ground).

"Itu kan tempat penangkaran, tempat bertelornya ikan. Harapan saya di sana itu tidak ada bangunan-bangunan, kerena disana tempat perkembangbiakan ikan. Tetapi semua itu kan perlu dibicarakan. Agar tidak ada kesimpangsiuran informasi, dan gesekan antara nelayan dengan pemerintah, nelayan dengan pengembang dan nelayan dengan kontraktor," kata Sarjono.

Kepada KBR, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji pernah mengatakan sudah menyiapkan lahan seluas 30 ribu hektar untuk kawasan industri, pariwisata dan perumahan baru di Cilacap. Rencana itu untuk mewujudkan ambisi menjadikan Cilacap sebagai "Singapore of Java".

Kawasan yang disiapkan akan disulap menjadi pusat industri yang diklaim terbesar di Jawa Tengah. Salah satu lahan yang dipersiapkan adalah kawasan lahan timbul di Segara Anakan.

Bupati Tatto yakin rencana tersebut bakal cepat terlaksana. Sebab, Cilacap merupakan kawasan industri hulu yang lengkap. Di Cilacap terdapat perusahaan Pertamina, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa-Bali yang direncakan berdaya 35 MW, dan pabrik semen.

Editor: Agus Luqman

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!