Ilustrasi demonstrasi KNPB - (Foto lipi.go.id)



KBR, Jakarta - Ketua Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua, Fritz Ramandey menyesalkan terjadinya kekerasan yang mewarnai aksi demonstrasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di sejumlah tempat di Papua.

Fritz Ramandey mengatakan aksi KNPB kerap diwarnai kekerasan karena pemerintah daerah Papua dan Kepolisian selama ini tidak memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pendapat.

Kemerdekaan berpendapat yang dijamin Undang-undang Nomor 9 tahun 1998, kata Fritz, tidak diberikan kepada organisasi semacam KNPB dengan alasan KNPB masuk organisasi terlarang. Hal itulah yang menyebabkan aksi KNPB kerap diwarnai kekerasan.

"Sangat disayangkan, ini terjadi berulang kali, seakan-akan semua pihak belum mencari formula untuk menangani masalah itu. Kalau soal Undang-undang Nomor 9 tahun 1998, semestinya aksi semacam ini harus difasilitasi," kata Fritz kepada KBR, Senin (15/8/2016).

Fritz khawatir hubungan antara polisi dan KNPB akan terus buntu. Dia pun menyarankan semua pihak untuk mencari solusi dan berdialog bersama.

"Terjadi deadlock ini memang membutuhkan saran pemerintah daerah, DPR, Komnas HAM untuk berdialog. Walapun mereka nggak mau berdialog. Tetapi kan tugas negara tidak berhenti disitu untuk menyelesaikan masalah-masalah ke-deadlock-an," ujarnya.

Kepolisian Kota Jayapura menangkap 18 anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam aksi hari ini, Senin (15/8/2016). Dua orang ditangkap di daerah Perumnas 3 Waena dan 16 orang lainnya ditangkap di Taman Imbi Kota Jayapura.

Kapolda Papua, Paulus Waterpauw mengklaim dua orang yang ditangkap di Perumnas 3 Waena, karena diduga melakukan pembakaran, pelemparan batu kepada petugas keamanan dan perusakan di sepanjang Jalan Waena.

Paulus menambahkan aksi KNPB juga melukai satu orang anggota polisi yang terkena lemparan batu di bagian lehernya.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!