Sejumlah jurnalis melakukan aksi solidaritas di Telanaipura, Jambi, Selasa (16/8). Aksi itu mengecam kekerasan oleh oknum anggota TNI AU terhadap jurnalis Tribun Medan dan MNC TV saat bertugas. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta-
Andri Sjafrin, jurnalis MNC yang menjadi korban kekerasan oknum TNI AU di Medan sempat ditolak oleh sejumlah rumah sakit sebelum akhirnya ia dirawat di RS Royal Prima. Wakil ketua tim advokasi hukum terkait penyerangan jurnalis di Medan, Hendrik mengatakan Andri sebelumnya telah dirujuk ke RS Pirngadi dan RS Mitra Sejati. Namun, kedua rumah sakit menolak Andri karena khawatir mendapat tekanan dari TNI.

"Sebelum ke RS Royal Prima, dia dirujuk ke RS Pirngadi. Namun dengan alasan yang tidak jelas, mereka menolak. Kalau menurut dugaan kami, mereka kekhawatiran karena pelakunya itu TNI," jelas Hendrik.

"RS Mitra Sejati memulangkan dia, karena rumah sakit itu ada hubungan dengan AU dan dekat dengan pangkalan udara, asrama Lanud Suwondo. Karena kekhawatiran itu, sekitar malam itu dipulangkan," tambahnya.

Rumah sakit Royal Prima, kata Hendrik, menemukan patah tulang pada sejumlah titik di tubuh Andri. Selain itu, barang-barang milik Andri yang diambil oleh oknum TNI juga belum dikembalikan, termasuk kamera.

Terkait kekerasan terhadap jurnalis, sejumlah pihak, yaitu Aliansi Jurnalis Independen, Persatuan Wartawan Indonesia, Forum Jurnalis Medan, dan sejumlah badan pers lainnya, sepakat membentuk tim advokasi hukum . Hendrik mengatakan bahwa tim ini akan berkoordinasi dengan pihak keluarga korban untuk memutuskan langkah ke depannya.

"Beberapa lembaga pers di sini yang tergabung, termasuk PWI, AJI, FJM, yang ada di medan ini membentuk advokasi hukum. Jadi kami mau koordinasi dulu dengan pihak keluarga korban dan korban sendiri, apakah ini nanti dilanjutkan. Secara moral kami tetap mendukung korban," sebut Hendrik.

Tindak Lanjut TNI Terhadap Korban
Hendrik tegaskan, pihak korban sendiri hingga kini belum mendapatkan bantuan apa pun dari TNI AU. Padahal kemarin pihak TNI AU telah meminta maaf atas peristiwa tersebut dan berjanji akan membantu korban dari segala sisi.

"Sampai saat ini tidak ada keterlibatan untuk biaya perobatan. Ini masih biaya dari keluarga mereka sendiri, dan juga dari rekan-rekan sesama pers," jelas Hendrik.

Selain itu, barang-barang milik Andri yang diambil oleh oknum TNI juga belum dikembalikan, termasuk kamera. "Biasanya kalau yang namanya rusak, barang itu tetap ada bekasnya. Ini kan tidak ada bekasnya. Berarti kalau menurut kami itu dirampok, dicuri," pungkas Hendrik.

"Kalau itu barang belum balik kepada kami.  Ada niat kemarin dari pihak AU mau menyerahkan kepada salah satu anggota kami. Tapi karena bukan kapasitasnya dia tidak berani nerima handphone dan dompet," tutupnya.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!