Petani di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur terpaksa mencabut tanaman tembakau yang membusuk dan gagal panen karena gangguan cuaca. Petani berganti dengan tanaman palawija. (Foto: Muji Lestari)



KBR, Jombang – Memasuki musim panen tahun ini harga tembakau di tingkat petani di Jombang, Jawa Timur, anjlok hingga 50 persen dibanding tahun lalu.

Selain disebabkan turunnya kualitas daun tembakau akibat penyimpangan cuaca La Nina atau dampak cuaca tak menentu, turunnya harga tembakau juga diakibatkan banyak petani gagal panen.

Seorang petani asal Kecamatan Kabuh, Suyanto mengatakan, untuk harga daun tembakau basah kualitas bagus dari petani petikan pertama, hanya dihargai Rp2,500 per kilogram. Sedangkan tanaman mereka, kini tidak bisa dipetik lagi akibat banyak daun yang rontok dan mati.

Kondisi ini jauh dibandingkan tahun lalu dimana harga daun tembakau basah bisa mencapai Rp5,000 per kilogram. Bahkan, lahan mereka masih bisa dipanen sampai tiga kali.

"Jadi akibatnya tanah nggak bisa kering, akarnya tembakau jadi busuk lalu mati semua. Ini panen baru satu kali sudah dipucuk-pucuk semuanya membusuk. Sekarang kalau harga basah itu Rp2,500 tembakau rajang namanya. Ya menurun karena kualitasnya nggak ada," kata Suyanto, Selasa (23/8/2016).

Suyanto mengatakan para petani kini terpaksa mencabuti batang tembakau, dan akan mengganti dengan tanaman palawija. Jika harga tembakau terus anjlok, para petani akan merugi puluhan juta rupiah.

Suyanto mengatakan setiap kali tanam mereka harus mengeluarkan biaya Rp5 juta perhektar. Bahkan jika ada wacana kenaikan harga rokok pun, petani berharap ada perimbangan dengan naiknya harga jual tembakau agar petani tetap untung.

Menurut mereka selama ini kenaikan harga rokok tidak pernah dirasakan petani akibat harga jual tembakau selalu rendah.

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!